Daya tanggap anak-anak terhadap rangsangan akustik pada usia yang berbeda

Melalui pendengaran, anak yang sedang berkembang akan memahami suara, mengidentifikasi berbagai hal, dan melalui peniruan, secara bertahap akan membentuk kata, kalimat, dan menyempurnakan bahasa untuk mengekspresikan pendapat dan perasaan, serta membentuk konsep-konsep internal. Masa awal bayi merupakan periode kritis untuk belajar bahasa, di mana disfungsi pendengaran yang ringan sekalipun dapat menyebabkan defisit dalam interaksi psikologis dan perilaku pada populasi anak. Oleh karena itu, identifikasi dini mengenai ada tidaknya gangguan pendengaran, yang mengarah pada penanganan dini yang tepat atau rehabilitasi pendengaran-verbal, dapat meminimalkan kecacatan akibat gangguan pendengaran. Deteksi dini ketulian telah banyak ditekankan, tetapi bagaimana cara menilai dan menguji fungsi pendengaran pediatrik secara dini dan akurat, masih menjadi topik penelitian yang penting bagi para ahli THT dan audiolog. Pemeriksaan pendengaran neonatal telah dilembagakan di banyak negara, dan menurut penelitian, 20-30% gangguan pendengaran pediatrik terjadi pada masa bayi dan anak usia dini. Oleh karena itu, pelacakan rutin, terutama pelacakan dan evaluasi anak-anak dengan risiko pendengaran tinggi tidak boleh diabaikan. sebelum tahun 1970-an, evaluasi dan pengujian pendengaran bayi di bawah usia 2 tahun hanya dapat dilakukan dengan metode pengujian perilaku, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, dengan kemajuan teknologi audiometri, pengukuran audiometri yang obyektif telah digunakan untuk memberikan dasar yang dapat diandalkan untuk pengujian fungsi pendengaran pediatrik secara dini dan akurat. Evaluasi pendengaran pediatri harus didasarkan pada kondisi perkembangan sistem pendengaran, sistem saraf, dan kecerdasan mereka, seperti bayi baru lahir dan bayi di bawah usia 2 tahun sering kali gagal menimbulkan respons terhadap sinyal akustik tingkat ambang batas, sehingga intensitas minimum respons yang ditimbulkan oleh tes observasi perilaku mungkin jauh di atas intensitas ambang batas dan hanya dapat disebut tingkat respons minimum. Respons terhadap stimulus mungkin hanya terjadi sekali, atau hanya sedikit, sehingga ketika respons dapat diamati dengan jelas, maka dapat dianggap sebagai respons pendengaran; sebaliknya, jika tidak ada respons yang dapat diamati, belum tentu ada masalah pendengaran. Untuk menghindari adaptasi terhadap stimulasi yang berulang, sering kali perlu untuk mengubah sinyal atau metode pengujian untuk mempertahankan respons yang tahan lama. Selain itu, bila terdapat gangguan perkembangan fisik atau intelektual, respons pendengaran yang diharapkan untuk usia yang bersangkutan sering kali tidak teramati. Jika pendengaran normal, tetapi kecerdasan terganggu, performa perilaku sering kali hanya setara dengan standar respons pada usia yang lebih rendah (bulan); sedangkan jika pendengaran terganggu, tetapi kecerdasan normal, hal ini dapat ditunjukkan dengan respons yang buruk terhadap stimulasi akustik intensitas rendah, sedangkan respons terhadap stimulasi intensitas tinggi sama dengan anak normal. Oleh karena itu, pendengaran pada bayi dan anak kecil harus dinilai dan diuji dengan menggunakan teknik yang berbeda untuk kelompok usia yang berbeda (0-6 tahun), dan penilaian tentang hasilnya juga harus mempertimbangkan pengaruh faktor non-auditif lainnya.