Batuk alergi dapat ditentukan dari gejala klinis, obstruksi jalan napas yang dapat dibalikkan, uji hiperresponsif jalan napas, dan uji alergen. 1. Gejala klinis: Batuk alergi terutama disebabkan oleh paparan alergen. Gejala klinis seperti batuk dan sesak napas sering muncul. 2. Obstruksi jalan napas yang dapat dibalik: Obstruksi jalan napas yang dapat dibalik terutama dideteksi dengan tes bronkodilator dan variabilitas laju aliran ekspirasi puncak. Jika tes dilakukan terus menerus selama dua minggu, dan variabilitas laju aliran puncak & gt; 20% tiga kali seminggu, dapat dinilai sebagai positif. 3. Tes hiperresponsif saluran napas: Tes hiperresponsif saluran napas, juga dikenal sebagai tes provokasi bronkial, adalah cara utama untuk mendiagnosis batuk alergi. Melalui penggunaan berbagai pemicu yang berbeda untuk menyebabkan kontraksi bronkial yang tidak normal, dan kemudian menentukan perubahan indikator fungsi paru-paru, untuk menentukan tingkat hiperresponsif jalan napas. 4. Tes alergen: Batuk alergi adalah suatu kondisi yang dipicu oleh paparan alergen tertentu, sehingga tes untuk mengidentifikasi alergen dapat mengarah pada pencegahan dan pengobatan dini. Tes yang umum digunakan meliputi tes kulit (tes cukit kulit, tes tusuk kulit) dan tes IgE spesifik serum. Batuk alergi dapat didiagnosis dengan adanya gejala-gejala di atas dan salah satu tes objektif untuk keterbatasan aliran udara yang bervariasi, kecuali batuk yang disebabkan oleh penyakit lain. Tes spesifik perlu dilakukan tepat waktu di rumah sakit di bawah bimbingan dokter, dan pengobatan aktif dapat dilakukan untuk menghindari penundaan kondisi.