Bagaimana fibrosis dinding esofagus didiagnosis secara klinis?

Fibrosis pada dinding esofagus berarti kerusakan kronis dan berulang dari esofagitis dapat menyebabkan kerusakan dan fibrosis pada seluruh esofagus, yang mengakibatkan penyempitan esofagus. Esofagitis mengacu pada peradangan pada jaringan mukosa esofagus yang dangkal atau yang lebih dalam akibat rangsangan yang tidak normal, yang mengakibatkan oedema dan penyumbatan pada mukosa esofagus. Penyebab: 1. Menelan makanan panas, benda asing yang tajam atau tulang yang tidak dikunyah dengan baik, menelan bahan korosif secara tidak sengaja, dan sebagainya yang secara langsung merusak mukosa esofagus sehingga menyebabkan peradangan. 2. Esofagitis fisik atau kimiawi: Reaksi terhadap esofagitis yang disebabkan oleh paparan radiasi disebut esofagitis radioaktif. Obat-obatan seperti quinidine, tetrasiklin, kalium klorida, zat besi, dll. juga dapat menyebabkan esofagitis dengan cara merangsang mukosa esofagus, terutama ketika tablet tersendat di esofagus. Esofagitis yang disebabkan oleh makanan yang terlalu panas dapat sembuh dengan sendirinya. Penggunaan selang lambung dalam jangka panjang, yang merangsang kerongkongan, juga dapat menyebabkan esofagitis. 3. Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lama menyebabkan infeksi yang disebabkan oleh perkembangbiakan jamur pada mukosa esofagus. Diagnosis: 1. Sebagian besar terjadi di atas usia 40 tahun. Pada orang normal, sfingter esofagus bagian bawah berfungsi sebagai penghalang agar isi lambung tidak mengalir kembali ke kerongkongan dengan mudah. 2. Bila sfingter ini tidak berfungsi, seperti pada kasus hernia hiatus esofagus atau penyebab lain yang menyebabkan ketidakmampuan sfingter ini, maka isi lambung dapat mengalir kembali ke kerongkongan. Cairan lambung mengandung asam dan juga dapat mengandung cairan empedu atau pankreas. Zat-zat ini dapat menimbulkan efek merusak pada kerongkongan, dan refluks yang berulang-ulang ke dalam kerongkongan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan peradangan, erosi, dan bahkan ulserasi pada mukosa kerongkongan. Kerusakan kronis dan berulang dapat menyebabkan kerusakan dan fibrosis pada seluruh esofagus, yang mengakibatkan penyempitan esofagus. Manifestasi klinisnya terutama berupa nyeri ulu hati, dengan gejala yang muncul pada malam hari saat berbaring dan hilang saat duduk, yang merupakan hal yang khas. Peningkatan tekanan perut saat mengangkat benda berat juga dapat menyebabkan refluks. 4, makanan tertentu seperti jus jeruk untuk merangsang lesi, dapat menyebabkan gejala. 5 . Pencitraan sinar-X barium dapat digunakan sebagai dasar diagnostik jika barium terlihat mengalir naik dan turun di antara kerongkongan dan perut. 6 . Pengamatan esofagoskopi menunjukkan cairan putih bersisik, erosi, ulserasi, dan perdarahan yang mudah terjadi pada dinding kerongkongan.