Perubahan karakteristik tinja dapat dilihat apabila terdapat tumor dalam usus, peradangan, disfungsi dan penyakit perianal. Apabila tumor terjadi pada saluran usus, seperti kanker kolon dan rektum, tinja bisa menjadi lebih encer dan lebih sering. Sebagian pasien mungkin mengalami diare dan konstipasi secara bergantian, darah dalam tinja atau pendarahan setelahnya, dan permukaan tinja yang tidak halus. Apabila kolitis ulseratif terjadi, dapat terjadi diare, seperti diare berdarah, tinja berdarah atau tinja berair. Kotoran mungkin bercampur dengan nanah dan lendir. Frekuensi buang air besar meningkat secara signifikan dan dapat disertai dengan nyeri perut, muntah dan urgensi. Diagnosis definitif dapat dibuat dengan kolonoskopi fibreoptik. Peradangan kronis pada usus juga dapat menyebabkan perubahan pola tinja, dengan peningkatan frekuensi tinja dan tinja yang tidak berbentuk. Kolonoskopi dan tes kultur tinja dan tinja rutin dapat dilakukan untuk memfasilitasi diagnosis penyakit. Gangguan pencernaan juga dapat menyebabkan tinja yang tidak normal, seperti peningkatan frekuensi buang air besar atau buang air besar yang tidak teratur, serta diare dan konstipasi.