Keenam hormon seks pada anak hanyalah tes skrining dasar dan perlu dikombinasikan dengan tes lain untuk diagnosis yang komprehensif. Untuk anak perempuan, tes utamanya adalah Luteinising Hormone (LH), yang berkisar antara 3,0-5,1 IU/L, dan untuk anak laki-laki, tes utamanya adalah Testosteron (T), yang lebih tinggi dari normal, yang mengindikasikan adanya pubertas dini.
Enam hormon seks pada anak umumnya meliputi: hormon perangsang folikel (FSH), hormon luteinising (LH), prolaktin (PRL), estrogen (E2), progesteron (P), dan testosteron (T). Luteinising Hormone (LH) adalah tes utama untuk anak perempuan dan Testosteron (T) untuk anak laki-laki.
1. Testosteron (T): Merupakan hormon steroid yang disekresikan oleh testis pada pria atau ovarium pada wanita. Di antara 6 hormon seks pada anak-anak, konsentrasi testosteron dalam darah anak laki-laki secara signifikan lebih tinggi daripada anak-anak normal pada usia yang sama, yang menunjukkan kemungkinan terjadinya pubertas dini.
2. Luteinising Hormone (LH): Hormon ini mendorong konversi hormon seks menjadi hormon seks dalam sel gonad. Kadar hormon luteinising (LH) antara 3,0 dan 5,0 IU/L dapat mengindikasikan adanya pubertas sebelum waktunya. Jika kadar LH >5,0 IU/L, sumbu gonad dapat ditentukan untuk diaktifkan tanpa memerlukan pengujian stimulasi hormon pelepas gonadotropin.
Jika kadar hormon di atas meningkat, tes lain, seperti tes provokasi hormon pelepas gonadotropin dan studi pencitraan, diperlukan untuk membantu dokter menegakkan diagnosis. Jika diagnosisnya adalah pubertas dini, pasien harus secara aktif bekerja sama dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan.