Cara merawat anak yang terkena serangan rabies

Anak-anak yang terserang rabies biasanya ditangani secara agresif atau konservatif, tergantung dari durasi dan tingkat keparahan penyakit, status vaksinasi, dan keinginan keluarga.
1. Pengobatan agresif: Untuk anak-anak yang terserang rabies, ketika penyakitnya masih dalam tahap awal atau menengah, tidak ada penyakit penyerta, anak telah divaksinasi rabies, ada harapan untuk bertahan hidup, dan keluarga dapat menerima kelangsungan hidup anak tersebut dengan gejala sisa yang serius, maka program pengobatan yang agresif dapat dilakukan.
Program ini terdiri dari terapi kombinasi, termasuk pengobatan antivirus dengan obat-obatan seperti ribavirin dan interferon, dan imunoterapi untuk melengkapi vaksinasi lengkap dan penggunaan imunoglobulin setelah terpapar rabies. Perlindungan saraf diberikan dengan tudung pendingin dan pendingin intranasal.
2. Terapi konservatif: Ketika seorang anak yang terkena serangan rabies berada pada stadium lanjut dari penyakit ini, komplikasi muncul, kelangsungan hidup tidak mungkin terjadi dan keluarga tidak dapat menerima kelangsungan hidup anak tersebut dengan gejala sisa neurologis yang parah, maka pengobatan konservatif umumnya dilakukan.
Fokusnya adalah pada pereda nyeri dengan obat penenang seperti diazepam untuk relaksasi otot dan sedasi. Haloperidol mengurangi agitasi dan mengurangi halusinasi, delirium, dan agresi. Antikolinergik seperti skopolamin untuk mengontrol sekresi air liur, antipiretik seperti ibuprofen untuk mengontrol suhu tubuh dan pengobatan gejala lainnya.
Tidak ada pengobatan yang efektif untuk rabies. Perlu dicatat bahwa jika seorang anak digigit anjing, lukanya harus segera dibersihkan dan divaksinasi rabies, dan orang tua tidak boleh mengambil risiko. Begitu seorang anak terkena rabies, harus segera dikirim ke rumah sakit, oleh tim dokter profesional untuk mendapatkan perawatan darurat yang sistematis dan formal.