Diagnosis rabies memerlukan pengumpulan beberapa sampel (misalnya air liur, kulit, serum, cairan serebrospinal) dan pelaksanaan beberapa tes karena sensitivitas tes tunggal yang terbatas. Sebagai contoh, titer antibodi virus serum mungkin tidak terdeteksi sampai akhir perjalanan penyakit, jika pernah. Namun, sensitivitas ketika menggabungkan beberapa tes mendekati 100%, tergantung pada kualitas sampel, waktu pengambilan sampel, dan keahlian diagnostik. 1. Air liur: Semua sampel air liur harus dikumpulkan dalam wadah kecil yang steril dan tertutup rapat. Tes laboratorium meliputi PCR untuk RNA virus dan isolasi virus dengan kultur virus. 2. Biopsi kulit: Sepotong kulit dengan ketebalan penuh (yaitu berdiameter 5-6 mm) harus diambil dari garis rambut di bagian belakang leher. Sampel harus mencakup setidaknya 10 folikel rambut dan saraf kulit di dasar folikel. Sampel harus diletakkan di atas kain kasa steril yang dibasahi dengan air steril (tidak direndam dalam pengencer atau media transfer) dan ditempatkan dalam wadah kedap udara. Tes laboratorium meliputi PCR dan pewarnaan imunofluoresen terhadap antigen virus. 3. Serum dan cairan serebrospinal: Setidaknya 0,5 mL serum dan cairan serebrospinal harus dikumpulkan untuk pengujian. Jika pasien telah divaksinasi rabies, sampel serum lainnya harus diambil beberapa hari kemudian untuk melihat apakah titer antibodi meningkat. Tes laboratorium untuk antibodi rabies meliputi tes imunofluoresensi tidak langsung dan tes netralisasi virus.