Pengobatan dini tuli akibat kekurangan zat besi pada anak dapat mengembalikan pendengaran normal

Anak tersebut berjenis kelamin laki-laki, berusia 3 bulan. Ibu dari anak tersebut memiliki riwayat anemia defisiensi besi dan anak tersebut gagal dalam tes skrining pendengaran saat lahir pada akhir November 2013. Tes hantaran akustik menunjukkan kurva timpani berbentuk A pada kedua telinga dan tidak ada refleks otot stapedial yang muncul. Tes darah klinis dan laboratorium biokimia: Hb 110.0g/L, eritrosit 3.11×10*12/L, feritin serum 45.3ug/L, zat besi serum 9.97umol/L. Diagnosis ketulian akibat kekurangan zat besi telah dikonfirmasi. Pendengaran anak membaik secara signifikan setelah 2 bulan pengobatan dengan kombinasi pengobatan Tiongkok dan Barat serta terapi zat besi. Emisi otoakustik normal pada DPOAE bilateral setelah 7 bulan (Gambar 3 dan 4) dan tes respons batang otak pendengaran mencapai ambang pendengaran yang normal di kedua telinga. Tes darah klinis dan laboratorium biokimia: Hb133g/L, feritin serum 194.14ug/L, besi serum 17.5umol/L, semuanya secara signifikan lebih tinggi daripada nilai sebelum pengobatan dan pada atau mendekati tingkat rata-rata pendengaran normal pada subjek yang sehat. Pada masa tindak lanjut 1 tahun, pendengaran anak tersebut normal dan kemampuan bicara serta komunikasinya juga normal. Gambar 1 DPOAE sebelum perawatan di telinga kanan tidak muncul (Erratum: “Tanggal lahir” pada gambar seharusnya: 2013-11-23) Gambar 2 DPOAE sebelum perawatan di telinga kiri tidak muncul (Erratum: “Tanggal lahir” pada gambar seharusnya: 2013-11-23) Gambar 3 DPOAE setelah perawatan di telinga kiri menjadi normal setelah 7 bulan Gambar 4 DPOAE setelah perawatan di telinga kanan menjadi normal setelah 7 bulan