Orang tua tidak bisa begitu saja mengatakan “tidak” ketika mereka merasa perlu, tetapi cara penolakan yang sederhana dan brutal dapat membahayakan anak. Menjadi orang tua yang kompeten bukanlah sebuah pilihan. Berikut ini adalah pembahasan rinci tentang bagaimana mengatakan tidak kepada anak Anda. Sebagai orang tua, kita semua mencintai anak-anak kita dan ingin mereka tumbuh dengan sehat dan bahagia. Namun, kita sering merasa bingung ketika menghadapi anak-anak kita dan tidak tahu bagaimana memahami proporsi cinta, terutama ketika anak-anak kita meminta satu demi satu, kita akan merasa bingung, memenuhi permintaan anak itu – takut itu akan merusak anak; menolak permintaan anak itu – dan takut membuat anak jengkel. Pada saat ini, kita sebagai orang tua akan menjadi lembut hati dan kesal, ditambah lagi tidak berdaya, tidak tahu harus berbuat apa, yang penting bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Sebagai orang tua, pertama-tama kita harus memahami bahwa menolak permintaan anak yang tidak masuk akal bukan berarti menolak anak tersebut, tetapi membantu anak tumbuh lebih baik dengan menolaknya. 1. Adalah baik bagi anak untuk membentuk nilai-nilai yang benar Seorang anak harus memiliki nilai-nilai yang benar untuk tumbuh sebagai pribadi dalam masyarakat, dan norma-norma perilaku harus sejalan dengan persyaratan dasar masyarakat. Ketika seorang anak melakukan sesuatu yang tidak kondusif bagi pertumbuhannya yang sehat atau yang memengaruhi orang lain, orang tua harus menolaknya untuk membantu anak membentuk nilai-nilai yang benar. Anak-anak masih terlalu muda dan belum berpengalaman untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta menilai kewajaran perilaku mereka, sehingga mereka membutuhkan orang tua untuk menolak dan membimbing mereka pada saat yang tepat. Seiring berjalannya waktu, anak-anak akan membentuk penilaian mereka sendiri di bawah bimbingan orang tua mereka. 3. Adalah baik bagi anak-anak untuk belajar mengendalikan diri Ketika anak-anak masih kecil, mereka sering tidak memiliki kontrol diri, kadang-kadang mereka tahu itu salah, tetapi sulit bagi mereka untuk belajar mengendalikan diri. 4 . Adalah baik bagi anak-anak untuk menetapkan batasan psikologis yang baik Penolakan yang wajar adalah cara yang pasti untuk membantu anak-anak menetapkan batasan psikologis. Seorang anak yang telah menetapkan batasan psikologis yang baik akan dapat membedakan antara kebutuhannya sendiri dan kebutuhan orang lain, dan akan tahu kapan harus menerima orang lain dan kapan harus menolaknya. Mereka tidak akan mencampuradukkan emosi mereka sendiri dengan emosi orang lain, juga tidak akan merendahkan orang lain dengan menyetujuinya atau takut kehilangan orang lain dengan menolaknya. Jika orang tua menangani masalah ini dengan baik, anak akan belajar untuk menolak dan ditolak oleh orang tua, dan akan mampu memahami keseimbangan yang tepat dan menetapkan batasan psikologis yang baik, yang akan menjadi fondasi untuk kehidupan yang bahagia. 5. Membantu membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak Beberapa orang tua mengambil banyak tanggung jawab untuk anak-anak mereka karena mereka terlalu khawatir tentang mereka, yang mengakibatkan anak-anak memiliki keterampilan perawatan diri yang buruk, kepercayaan diri yang rendah, dan terlalu bergantung pada orang tua mereka. Orang tua juga kelelahan karena terlalu banyak mengambil tanggung jawab yang tidak perlu, dan ketika anak-anak mereka mengecewakan mereka, mereka pasti menjadi tidak seimbang dan membenci anak-anak mereka. Untuk membentuk hubungan orang tua-anak yang sehat dan baik, orang tua harus belajar untuk menolak anak-anak mereka dengan tepat dan membiarkan mereka melakukan apa yang dapat mereka lakukan sendiri. Mengetahui peran penolakan yang wajar terhadap anak, kita memahami perlunya menolak mereka. Namun, kita masih bingung dan tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Penolakan yang wajar adalah keterampilan yang dipelajari dan harus digunakan dengan tepat. Seperti sepasang obat, Anda harus membaca instruksinya terlebih dahulu, jika tidak maka akan digunakan di tempat yang salah dan akan berakibat buruk. Penolakan yang tidak masuk akal tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga dapat membahayakan anak. Interaksi: Apa hal pertama yang perlu kita lakukan ketika seorang anak mengajukan permintaan? Pertama-tama, kita perlu menilai apakah permintaan itu masuk akal sebelum kita dapat membuat keputusan. 1. Penilaian yang masuk akal Penilaian yang masuk akal harus melakukan hal-hal berikut: (1) Dengarkan alasannya Sering kali, orang tua secara sewenang-wenang menolak seorang anak tanpa mendengarkan alasan anak, yang mengarah pada hasil yang salah. Oleh karena itu, pertama-tama kita harus membiarkan anak memberikan alasannya dan mendengarkan dengan sabar untuk membantu kita membuat penilaian yang tepat. (2) Tempatkan diri Anda pada posisi anak Anda Untuk menilai apakah permintaan anak itu masuk akal atau tidak, Anda tidak boleh hanya berdiri di posisi Anda sendiri dan menilai dari sudut pandang orang dewasa, tetapi cobalah untuk memahami apa yang dipikirkan anak dari sudut pandangnya. (3) Tetaplah rasional Ketika menolak anak, orang tua harus tetap rasional dan tidak menangani masalah ini secara emosional. Beberapa orang tua akan menuruti permintaan anak ketika mereka senang, tetapi menolaknya tanpa pandang bulu ketika mereka tidak senang. Penolakan seperti itu tidak rasional dan tidak hanya membingungkan anak, tetapi juga tidak meyakinkan anak. Hal ini juga dapat menurunkan wibawa orang tua di benak anak. (4) Pahami proporsionalitas Orang tua harus memahami proporsionalitas penolakan, tidak pernah berlebihan, tidak pernah menolak demi penolakan, dan memahami bahwa penolakan adalah untuk membantu anak tumbuh dengan sehat, bukan demi wajah orang tua. Jika Anda mengetahui bahwa Anda salah, Anda harus menyesuaikan pendekatan Anda pada waktunya, berani mengakui kesalahan Anda kepada anak Anda, dan berani memperbaiki pendekatan Anda dengan segera agar tidak melukai hati anak Anda. (5) Memimpin dengan memberi contoh Anda tidak dapat mengatakan satu hal kepada anak Anda dan melakukan hal lain, Anda tidak dapat hanya menetapkan aturan untuk anak Anda dan lolos begitu saja. Ada banyak cara untuk menolak dan pendekatan yang berbeda untuk situasi tersebut. (1) Penolakan langsung Karena anak-anak berusia 0-2 tahun memiliki kemampuan bahasa dan pemahaman yang terbatas, maka tidak tepat untuk menjelaskan terlalu banyak, sehingga Anda dapat menggunakan metode penolakan langsung dan kemudian menjelaskan alasannya secara singkat. Pendekatan yang tepat adalah berhenti dengan tenang tetapi tegas, menjelaskan dengan sederhana tetapi jelas, dan menerima dengan lembut tetapi sabar. (2) Pendekatan yang halus dan tidak langsung Pendekatan ini lebih tepat untuk anak usia 2-3 tahun yang berada pada tahap sensitif keras kepala, karena anak pada tahap ini sangat sensitif terhadap kata “tidak” dan penolakan secara langsung kemungkinan besar akan menimbulkan pemberontakan atau frustasi yang tidak kondusif bagi pertumbuhan psikologis anak. Oleh karena itu, penolakan secara langsung tidak disarankan untuk anak-anak pada usia ini, dan penolakan yang sopan lebih tepat. (3) Kesepakatan bersama Cocok untuk anak-anak di atas usia 3 tahun yang lebih mampu memahami, di sini kita akan membicarakannya secara singkat. Ini adalah cara yang paling umum untuk menyepakati hal-hal yang cenderung menimbulkan konflik dalam kehidupan sehari-hari, dan dibuat setelah berkonsultasi antara orang tua dan orang tua, dan antara orang tua dan anak. Kedua – kesepakatan sebelumnya Kesepakatan verbal dibuat sebelum sesuatu terjadi. Misalnya, sebelum pergi ke supermarket, katakan pada anak Anda, “Kita hanya bisa membeli N barang hari ini.” Jika anak memilih lebih dari jumlah barang yang telah disepakati, orang tua mengingatkan anak untuk menepati perjanjian. Ketiga – negosiasi dadakan Karena banyak hal yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya, terkadang orang tua keberatan dengan permintaan dadakan anak mereka, jadi cobalah bernegosiasi dengan anak Anda setenang mungkin. Hormati anak Anda, beri tahu alasannya, dapatkan pengertiannya, dan ketika menolak permintaannya, tawarkan alasan yang lebih baik. Hal ini akan lebih mungkin berhasil jika anak merasa aman dan telah memiliki gambaran yang lebih jelas tentang peraturan. (4) Pengkondisian suasana Setiap orang memiliki naluri untuk merasa senang dan menghindari rasa sakit. Jika kita pertama-tama dapat menciptakan suasana yang menyenangkan untuk membuat anak rileks, dan kemudian menyampaikan masalah penolakan, anak sering kali lebih mungkin menerima saran orang tua karena dia sedang dalam suasana hati yang baik. (5) Inspirasi Motivasi Membatasi kebutuhan tertentu sambil memberikan pandangan yang lebih baik kepada anak akan membantu anak untuk belajar bersabar untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Hal ini akan membantu anak untuk meningkatkan kontrol dirinya dan akan membantu anak untuk menetapkan tujuan untuk dirinya sendiri dan meningkatkan aspirasi spiritualnya. 3. Catatan tentang penolakan (1) Ketaatan pada prinsip-prinsip Ketika permintaan anak dianggap tidak masuk akal, permintaan tersebut harus ditolak, tidak peduli seberapa keras anak menangis. Jika tidak, setelah anak memiliki pengalaman menangis untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan terbiasa menggunakannya sebagai alat untuk memeras orang tua. Yang terbaik adalah bersikeras untuk tidak berkompromi saat pertama kali anak melakukan hal ini, sehingga anak mengerti bahwa menangis tidak membantu, dan bahwa kita berempati pada anak dan menunjukkan pengertian atas perasaannya, sehingga anak lebih mudah menerima bimbingan orang tua. (2) Mengendalikan emosi Ketika seorang anak mengekspresikan emosi negatif, mudah bagi orang tua untuk kehilangan akal sehat dan kehilangan kendali atas emosinya ketika anak menangis. Dalam kasus seperti itu, orang tua cenderung menyerang anak secara verbal dan perilaku. Padahal, hal ini tidak akan memberikan efek positif pada anak selain membuatnya merasa takut. Hal ini dikarenakan sikap orang tua yang berlebihan akan membuat anak berfokus pada perubahan emosi orang tua dan mungkin terlalu terkejut dengan perilaku orang tua yang berlebihan hingga menangis, dan tidak dapat menganalisa dan menilai situasi itu sendiri. Selain menyebabkan kerusakan psikologis pada anak dan mempengaruhi hubungan orang tua dan anak, hal ini juga menggagalkan tujuan kita untuk membantu anak tumbuh dengan sehat melalui penolakan. (3) Sikap yang konsisten Banyak orang tua yang ingin memiliki satu orang yang menyanyikan wajah merah dan satu orang yang menyanyikan wajah putih ketika mengajar anak-anak mereka. Hal ini dapat dengan mudah mengarah pada pembentukan kepribadian bermuka dua pada anak. Untuk menjaga konsistensi dalam pendidikan anak, penting untuk memperkuat komunikasi antar anggota keluarga secara teratur. Penting untuk mendiskusikan masalah anak dan menyepakati pendekatan yang konsisten ketika masalah muncul. Hal ini akan membantu anak Anda untuk mengembangkan rasa yang jelas tentang benar dan salah dan akan membantunya untuk belajar mengikuti aturan. (4) Memahami dan menghormati Tempatkan diri Anda pada posisi anak Anda sebanyak mungkin, lebih banyak berkomunikasi, lebih banyak memahami, dan biarkan anak Anda berani mengungkapkan ide-idenya yang sebenarnya. Ketika orang tua tidak memahami ide-ide anak mereka, jangan terburu-buru mengambil posisi, tetapi tanyakan dengan sabar dan cobalah untuk memahami anak Anda. Jika, setelah berkomunikasi, Anda yakin bahwa permintaan anak Anda tidak masuk akal, maka jujurlah sejujur mungkin dengan anak Anda, jelaskan alasan Anda dan tunjukkan rasa hormat kepada anak Anda. Orang tua tidak boleh bersikap kaku saat menolak, dan juga tidak boleh menggertak anak. Jangan pernah berkata kepada anak Anda, “Jika kamu melakukan sesuatu, saya tidak akan menyukaimu, saya tidak akan menginginkanmu, saya tidak akan peduli padamu” atau semacamnya. Karena cinta orang tua kepada anak adalah yang tertinggi dan tidak boleh digunakan sebagai ancaman atau syarat untuk pertukaran. Hanya ketika anak mengetahui dengan jelas bahwa orangtuanya mencintainya dan bahwa cinta ini murni tanpa pamrih, barulah ia dapat benar-benar memahami bahwa orangtuanya melakukan hal ini demi kebaikannya dan bahwa penolakan mereka dimaksudkan untuk membantunya bertumbuh. Jika tidak, anak tidak hanya akan gagal menghargai niat baik orang tuanya, tetapi juga akan gagal membangun nilai-nilai yang benar terhadap orang lain dan benda-benda. Bahkan jika anak menuruti permintaan orang tua yang bertentangan dengan keinginannya karena dia takut kehilangan kasih sayang orang tua, dia sebenarnya tidak yakin secara psikologis. Selain itu, konsekuensi dari hal ini tidak hanya gagal memenuhi tujuan untuk membantu anak tumbuh dengan sehat, tetapi juga akan menyebabkan hati anak semakin menjauh dari orang tuanya, dan bahkan dapat menyebabkan anak kehilangan kepribadiannya, kehilangan rasa percaya diri, dan menciptakan serangkaian masalah psikologis. (5) Menerima emosi Penolakan tidak sama dengan penolakan, apalagi hukuman. Anda tidak boleh menolak anak Anda karena permintaannya tidak masuk akal dan membuatnya merasa tersisih. Kalaupun Anda menolak, katakan pada anak Anda bahwa penolakan itu bukan masalah bagi anak. Penting juga bagi anak untuk merasa dicintai dan diperhatikan oleh orang tuanya. Ketika permintaan anak ditolak, ia pasti akan merasa frustasi sehingga memicu emosi negatif seperti menangis dan marah. Pada titik ini kita sebagai orang tua harus mencoba untuk menerima emosi negatif anak. Biarkan anak Anda menangis dan jangan melawan atau menekannya. Penting untuk memberikan bimbingan. Alih-alih terburu-buru mengalihkan emosi anak, kita harus menghadapi kenyataan bersama anak. Pada saat ini kita bisa berdiam diri bersama anak, menatapnya dengan tatapan penuh perhatian, atau memeluk dan mengelusnya. Ketika anak sudah tenang secara emosional, katakan pada anak dengan jelas, “Meskipun ibu telah menolak permintaanmu, ibu tetap sangat menyayangimu.” Dan beritahukan alasan penolakan tersebut agar ia mengerti bahwa kita menolaknya demi kebaikannya dan untuk membantunya. Penolakan kita hanya demi hal tersebut dan bukan orangnya. Dengan cara ini, anak sering kali menerima penolakan kita secara terbuka setelah katarsis menangis, dll. (6) Saran yang masuk akal Setelah menolak permintaan anak, orang tua dapat memberikan beberapa saran yang masuk akal kepada anak, tergantung pada situasinya. Penolakan adalah kesempatan bagi anak untuk tumbuh dan belajar untuk menilai apa yang pantas dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, dan tidak boleh diabaikan. Anak-anak sering kali memiliki niat baik, tetapi karena pengalaman mereka yang terbatas, cara yang mereka pilih tidak cocok untuk mereka. Jadi, orang tua dapat mengarahkan anak-anak mereka ke arah yang baik, tergantung pada situasi mereka, dan menunjukkan kepada mereka bahwa ada aturan dan cara yang lebih baik dalam berperilaku. Ini juga merupakan kesempatan langka untuk membantu anak belajar analisis diri dan aktualisasi diri. Memanfaatkan kesempatan seperti ini akan membuat anak lebih dekat dengan orang tua dan lebih bersedia untuk membuka diri kepada orang tua. Hal ini akan membantu menciptakan pola hubungan yang baik antara orang tua dan anak. (7) Meningkatkan kemampuan literasi Untuk dapat menolak permintaan anak secara wajar, kita perlu memiliki pengetahuan tentang pendidikan di rumah sebagai orang tua, menjadi orang tua yang belajar, tahu bagaimana menggunakan keterampilan menolak tertentu dan tidak menyakiti hati anak dengan menolak. Sulit bagi orang tua yang tidak berpendidikan home schooling untuk mengetahui kapan harus mengatakan tidak dan kapan harus mengatakan tidak. Mengasuh anak adalah proses membangun aturan yang halus. Hanya orang tua yang konsisten dalam perkataan dan tindakan mereka yang dapat membangun otoritas di benak anak-anak mereka. Orang tua harus konsisten dalam penolakan mereka terhadap anak-anak mereka. Anda tidak boleh memanjakan anak Anda karena suasana hati Anda sedang baik hari ini dan bersikap keras terhadapnya jika suasana hati Anda sedang buruk esok hari. Hal ini akan membuat anak bingung dan akan mempengaruhi rasa aman anak. Penolakan bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan karena kurangnya uang atau suasana hati yang buruk; penolakan adalah sebuah kesempatan pendidikan untuk membuat anak sadar akan lingkungannya dan aturan-aturan perilaku. Menolak permintaan anak yang tidak masuk akal dan menetapkan aturan perilaku membutuhkan dorongan dan rangsangan yang konstan dari orang tua dan dunia luar pada awalnya; seiring berjalannya waktu, dalam proses penolakan orang tua, anak belajar mengendalikan diri, meningkatkan kecerdasan mawas diri, serta menginternalisasi disiplin diri dan pengendalian diri secara sadar agar tidak secara pasif menerima pendidikan dari dunia luar.