Kriteria diagnostik untuk artritis reaktif meliputi artritis perifer, riwayat infeksi, tes laboratorium dan temuan pencitraan. 1. Artritis perifer: artritis perifer biasanya berkembang secara akut 1~6 minggu setelah infeksi, dengan distribusi asimetris artritis tunggal atau oligoartikular, yang biasanya ditemukan pada sendi lutut dan pergelangan kaki, dan yang kedua pada sendi bahu, pergelangan tangan, dan siku, dan dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan, rasa sakit, dan suhu kulit yang tinggi. 2. Riwayat infeksi: pasien mungkin memiliki riwayat uretritis non-gonore, diare akibat bakteri, dan mikroorganisme patogen lainnya seperti klamidia dan salmonella. 3. Tes laboratorium: tes darah rutin dapat mendeteksi peningkatan sel darah putih dan protein C-reaktif, dan peningkatan sedimentasi darah. Kedua, faktor rheumatoid dan antibodi antinuklear biasanya negatif. 4. Tes pencitraan: Tes pencitraan tidak diperlukan untuk diagnosis, tetapi penting untuk diagnosis banding setelah evaluasi kondisi pasien, dan umumnya meliputi sinar-X, ultrasound sendi, dan magnetic resonance imaging (MRI). Artritis reaktif harus didiagnosis di bawah bimbingan dokter, dan tidak boleh didiagnosis secara membabi buta, agar tidak memengaruhi kondisi.