Apakah Anda bahagia dan menurut Anda, apakah kebahagiaan itu? Jawaban orang biasa berkisar dari olok-olok hingga harapan sederhana, mencerminkan impian orang biasa. Namun, apa arti “kebahagiaan” bagi orang dengan skizofrenia? Salah satu karakteristik klinis orang dengan skizofrenia adalah fungsi psikososial yang buruk. Berkurangnya kualitas hidup subyektif yang terkait dengan disfungsi psikososial, termasuk kurangnya kesenangan dan penurunan kesejahteraan umum, telah lama dianggap sebagai fitur yang melekat pada penyakit. Namun, ada bukti penelitian bahwa orang dengan skizofrenia mampu mempertahankan tingkat kebahagiaan yang sama dengan orang sehat. Oleh karena itu, masih kontroversial apakah ‘defisit kesenangan’ harus didefinisikan sebagai manifestasi klinis skizofrenia. Untuk mengeksplorasi masalah ini lebih lanjut, para peneliti menggunakan pasien skizofrenia dalam studi CATIE (catatan: tonggak sejarah dalam uji klinis pada skizofrenia) untuk menyelidiki dan menganalisis distribusi kepuasan hidup secara keseluruhan pada pasien skizofrenia kronis dan untuk berspekulasi dan mendiskusikan mekanisme yang mungkin berperan. Studi ini menemukan bahwa persentase yang tinggi (46%) penderita skizofrenia merasa puas dengan kehidupan mereka! Namun, para peneliti membuat spekulasi bahwa jika orang dengan skizofrenia puas dengan keadaan mereka saat ini, mereka tidak memiliki kemauan subjektif atau tindakan untuk mencoba mengubahnya. Hal ini mungkin karena orang dengan skizofrenia sering melebih-lebihkan tingkat fungsi mental mereka dan sumber daya yang mereka miliki. Lebih penting lagi, apakah seseorang dengan skizofrenia merasa puas dengan kehidupannya atau tidak, memiliki dampak langsung pada jumlah upaya yang dilakukan orang tersebut dalam fase pemulihan. Jika kepuasan mereka terhadap kehidupan rendah, mereka bisa saja termotivasi untuk mempertahankan tingkat motivasi dan tujuan yang sama dengan yang mereka miliki sebelum penyakit dimulai, atau memiliki keinginan subyektif yang kuat untuk mengubah sesuatu. Para peneliti menyadari bahwa bahkan pada tahap awal penyakit, pasien mungkin mengalami pergeseran yang signifikan dalam tujuan dan nilai hidup mereka, dan bahwa pergeseran ini memiliki dampak yang mendalam pada tingkat upaya dan manfaat yang mereka terima selama proses pengobatan.