Pemeriksaan dismenorea ginekologi memerlukan pemeriksaan ginekologi, pencitraan, tes laboratorium, serta laparoskopi dan histeroskopi. Umumnya, dismenorea fisiologis bersifat ringan. Jika dismenorea lebih serius, hal ini dapat disebabkan oleh penyakit seperti adenomiosis dan endometriosis, yang memerlukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan diagnosis dan melakukan penanganan yang tepat. 1. Pemeriksaan ginekologi: melalui diagnosis ganda dan tripel untuk mengetahui posisi, ukuran dan mobilitas rahim, serta vagina, leher rahim, saluran tuba, indung telur dan kelainan lainnya, selain itu juga melakukan pemeriksaan sekresi untuk mengetahui adanya peradangan vagina dan serviks. 2. Pemeriksaan pencitraan: termasuk USG, histerosalpingografi, MRI panggul dan pemeriksaan lainnya dapat mengetahui ada tidaknya lesi organik pada serviks, tubuh rahim, saluran tuba dan ovarium bilateral, panggul dan bagian rahim lainnya, termasuk kelainan bentuk rahim, stenosis serviks, dll, dan juga dapat menentukan tingkat perkembangan penyakit. 3. Pemeriksaan laboratorium: termasuk pemeriksaan darah rutin, hormon seks, penanda tumor, dll. Pemeriksaan darah rutin dapat menentukan apakah ada infeksi. Pengukuran hormon seks dapat menilai fungsi ovarium. Termasuk adenomiosis, endometriosis, tumor ginekologi, dan sebagainya akan menyebabkan peningkatan penanda tumor. 4. Laparoskopi dan histeroskopi: Jika terdapat kelainan pada item pemeriksaan di atas dan dicurigai adanya penyakit organik, histeroskopi dan laparoskopi serta biopsi jaringan yang sesuai dapat digunakan untuk mendeteksi dan mendiagnosis penyakit secara lebih akurat, dan terkadang pengobatan dapat dilakukan pada waktu yang bersamaan. Setelah terjadinya dismenorea, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter tepat waktu, setelah konsultasi dengan dokter, item pemeriksaan yang sesuai akan dipilih sesuai dengan kondisi fisik wanita dan gejala yang dialaminya, kemudian pengobatan akan ditargetkan sesuai dengan hasil pemeriksaan.