Tinja yang lapar dapat ditentukan dari frekuensi, sifat, dan warna tinja. Tinja yang lapar disebabkan oleh pemberian makanan yang tidak tepat, seperti pemberian makanan yang berlebihan atau kurang. Pada kasus mencret karena kelaparan, terjadi peningkatan frekuensi keluarnya tinja, dengan frekuensi sekitar 4-6 tinja per hari, yang harus diwaspadai ketika bayi dan anak kecil mengalami peningkatan frekuensi buang air besar. Tinja yang normal relatif tipis dan tebal, tetapi dalam kasus tinja kelaparan, tinja menjadi lebih tipis karena keluarnya isi usus yang berlebihan. Tinja yang kelaparan tetap berada di dalam usus dalam waktu yang relatif singkat, sehingga tidak dapat dinetralisir oleh zat basa dalam sistem usus dan bersifat asam, berwarna hijau kekuningan, dan berbau amis ketika dikeluarkan.