Derajat 125 derajat pada optometri terkomputerisasi belum tentu miopi, tetapi bisa juga disebabkan oleh hipermetropi, astigmatisme, dll. Derajat optometri terkomputerisasi hanyalah refleksi kasar dari keadaan refraksi mata, dan pemeriksaan optometri lebih lanjut diperlukan di bawah bimbingan dokter.
Optometri terkomputerisasi adalah cara yang umum digunakan untuk memeriksa kelainan refraksi, yang dapat diklasifikasikan ke dalam miopi, hipermetropi, dan astigmatisme. Kelainan refraksi yang diperoleh melalui optometri terkomputerisasi tidak selalu berupa miopi, tetapi dapat pula berupa hipermetropi atau astigmatisme.
Pasien dapat mengidentifikasi jenis kelainan refraksi dari simbol di depan nomor dan nama klasifikasi nomor tersebut. Jika angkanya berada di kolom S dan tanda di depan angka tersebut adalah tanda negatif, maka itu adalah miopi, jika tanda positif, maka itu adalah hipermetropi, dan jika di kolom C, maka itu adalah astigmatisma.
Derajat optometri terkomputerisasi hanya merupakan refleksi kasar dari keadaan refraksi mata. Pemeriksaan optometri lebih lanjut diperlukan di bawah bimbingan dokter untuk menentukan apakah pasien rabun atau tidak berdasarkan hasil optometri subyektif dan untuk memandu pasien dalam perawatan lebih lanjut.