Retensi lambung dapat diobati dengan puasa, dekompresi saluran cerna, obat-obatan, dan pembedahan.
1. Puasa dan dekompresi saluran cerna: Puasa dapat mencegah isi lambung terus meningkat dan memperparah gejala retensi lambung. Dekompresi saluran cerna dapat mengembalikan fungsi peristaltik lambung.
2. Pengobatan farmakologis:
(1) Stimulan lambung: Obat yang umum digunakan seperti domperidone, mosapride dan obat lain dapat meningkatkan daya saluran pencernaan, membantu pengeluaran isi lambung dan mengurangi gejala retensi lambung.
(2) Obat antiemetik: obat yang umum digunakan seperti brominaprocarbamate, benadryl, ondansetron, dll., Meringankan gejala mual dan muntah dengan menghambat dan mengurangi aktivitas saraf pusat muntah.
(3) Antidepresan: obat yang umum digunakan seperti doksepin dan prometazin dapat digunakan pada pasien yang mengalami muntah karena faktor psikosomatik untuk memperbaiki gejala retensi lambung.
(4) Rehidrasi: Untuk mengisi kembali nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh saat berpuasa, obat-obatan seperti natrium klorida, glukosa, kalium klorida, dan vitamin dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan elektrolit air di dalam tubuh.
3. Perawatan bedah: Jika stenosis pilorus disebabkan oleh bekas luka ulkus, dilatasi balon endoskopik dapat digunakan untuk meringankan sumbatan. Jika obstruksi disebabkan oleh tumor, reseksi bedah tumor atau penempatan stent gastroskopi dapat dilakukan untuk meringankan obstruksi.
Jika diagnosis retensi lambung telah dikonfirmasi, disarankan agar pengobatan standar dilakukan sesegera mungkin untuk mengurangi dampak buruk penyakit ini. Semua obat di atas harus digunakan di bawah bimbingan dokter, hindari pengobatan sendiri.