Gejala dan diagnosis enterotoksemia

Enterotoksaemia, juga dikenal sebagai “penyakit ginjal lunak”, adalah toksemia akut pada domba yang disebabkan oleh Clostridium perfringens tipe D (Clostridium perfringens). Penyakit ini ditandai dengan onset yang cepat, durasi yang singkat dan flacciditas ginjal. 1. Patogenesis Clostridium perfringens tipe D adalah anggota genus Clostridium. Pewarnaan Gram positif, anaerobik, dapat membentuk polong dan spora batang besar. Ditemukan di tanah, usus hewan, dan limbah. Disinfektan umum mudah untuk membunuh propagul bakteri, tetapi bakteri ini lebih resisten dan membutuhkan waktu 2,5 jam pada suhu 95°C untuk membunuhnya. 2. Epidemiologi Sumber penularan adalah domba yang sakit dan domba yang terkena bakteri. Penyakit ini merupakan infeksi oral. Domba rentan dan dapat terinfeksi oleh berbagai jenis dan umur domba. Penyakit ini terutama ditemukan pada domba, tetapi lebih jarang terjadi pada kambing, terutama pada domba yang berusia 2 hingga 12 bulan dengan lemak yang baik. Penyakit ini bersifat musiman, terjadi pada akhir musim semi dan awal musim panas ketika rumput bertunas dan pada musim gugur ketika padang rumput keras; di daerah pertanian, penyakit ini terjadi selama musim panen sayuran atau musim gugur, ketika sejumlah besar akar, daun, atau biji-bijian dimakan. Penyakit ini umumnya menyebar, dengan masa inkubasi yang singkat, sering kali dengan onset dan kematian yang tiba-tiba, dan jarang terlihat sebagai gejala. Gejala klinis Penyakit ini sering tidak menunjukkan gejala dengan onset dan kematian yang mendadak. Jika penyakit ini berkepanjangan, gejala neurologis dapat terlihat, dengan kejang otot yang umum, kejang, jatuh ke tanah, dan kedutan pada anggota tubuh yang berair. Gangguan pernapasan dan keluarnya busa putih dari hidung dan mulut. Beberapa tidak menunjukkan gejala neurologis dan ditandai dengan koma dan kematian. 4. Perubahan patologis Ciri yang paling khas adalah lesi ginjal yang membengkak dan lunak seperti lumpur. Perut domba yang mati membesar dan perutnya dipenuhi dengan makanan dan gas. Selaput lendir usus besar dan kecil tersumbat, berdarah dan penuh dengan gas, dan pada kasus yang parah, seluruh dinding usus berwarna merah. Kantung empedu membesar dan cairan menumpuk di dada, perut, dan perikardium. 5. Diagnosis (1) Diagnosis awal dapat dibuat berdasarkan gejala klinis yang khas dan perubahan patologis; diagnosis laboratorium lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. (2) Diagnosis laboratorium Pemeriksaan patogenik: pemeriksaan mikroskopis isi usus, isolasi dan identifikasi bakteri, pemeriksaan toksin. (3) Diagnosis banding Penyakit ini harus dibedakan dari penyakit cerewet, penyakit mendadak, penyakit hitam, dan antraks. Pencegahan dan pengendalian Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi di daerah yang terinfeksi. Karena penyakit ini banyak ditemukan di alam, manajemen pemberian pakan harus diperkuat dan kebersihan lingkungan yang baik harus dijaga. Hindari sejauh mungkin faktor-faktor yang dapat memicu penyakit ini, seperti perubahan pakan secara tiba-tiba, dan jangan memberi makan lebih banyak biji-bijian, terutama rumput dan hijauan yang bersalju dan es, di awal musim semi. Saat merumput, pilihlah lereng yang tinggi dan bukan dataran rendah. Pengobatan: 1. Penisilin 5 – 100.000 per kg berat badan, 5 – 10 ml air untuk injeksi, injeksi intramuskular, 1-2 kali sehari, selama 3 – 5 hari, dalam kasus yang serius, injeksi seluruh kawanan. 2 . Injeksi oksitetrasiklin kerja panjang 0,1 ml / per kg, sekali sehari atau dua hari sekali, selama 3 kali. Pada kasus yang parah, suntikkan seluruh kawanan. 3 . 10 % injeksi sulfadiazin 70 – 100 mg / per kg, injeksi glukosa 10% 250 – 500 ml. Suntikkan secara intravena, dua kali sehari selama 3 hari. Jika terjadi epidemi, pertama-tama gunakan vaksin untuk imunisasi darurat, dan untuk domba gunakan antiserum atau pengobatan antitoksin. Pindahkan padang rumput dengan segera, kurangi pemberian pakan hijau dan perbanyak hijauan. Pada saat yang sama, hewan yang sakit harus diisolasi, domba yang mati harus dibuang tepat waktu dan lingkungan harus didesinfeksi secara menyeluruh untuk mencegah penyebaran patogen.