Ensefalopati hepatikum secara klinis dibagi menjadi lima stadium: stadium 0 stadium laten, stadium 1 stadium prodromal, stadium 2 stadium pra-koma, stadium 3 stadium somnolen, dan stadium 4 stadium koma.
Ensefalopati hepatikum dapat dipentaskan berdasarkan apakah pasien disertai dengan tremor yang bergetar, pemeriksaan elektroensefalogram, pemeriksaan tanda patologis, pemeriksaan refleks tendon distonik, dan penilaian fungsi sentral.
Stadium 1.0 yaitu stadium laten: tidak ada tremor yang bergetar, elektroensefalogram normal, tidak ada tanda patologis positif, distonia dan refleks tendon normal, tidak ada kelainan perilaku dan kepribadian, hanya ada kelainan kecerdasan mental.
2.1 Tahap prodromal: tremor bergetar, elektroensefalogram abnormal, tidak ada tanda patologis positif, tonus otot dan refleks tendon normal, kelainan kepribadian dan mental ringan (mis. kecemasan, amnesia, pembalikan tidur).
3.2 Tahap pra-koma: tremor bergetar, elektroensefalogram abnormal, tanda patologis positif, peningkatan tonus otot dan refleks tendon, kelainan perilaku dan disorientasi, kantuk dan kebingungan.
4.3 Tahap koma: tremor bergetar, kelainan EEG, tanda patologis positif, peningkatan tonus otot dan refleks tendon, rasa kantuk yang dapat dibangunkan tetapi kebingungan.
5.4 Tahap koma: tidak ada tremor yang bergetar, elektroensefalogram abnormal, tidak ada tanda patologis positif, peningkatan tonus otot dan refleks tendon pada koma dangkal dan menurun pada koma dalam, dan ketidakmampuan untuk dibangunkan selama koma.