Kriteria diagnostik untuk rabies dibagi menjadi diagnosis klinis dan diagnosis laboratorium. Diagnosis klinis dapat ditegakkan dengan adanya riwayat digigit atau dicakar oleh anjing yang sakit atau hewan lain yang sakit. 2. Pasien menunjukkan gejala klinis yang khas seperti takut terhadap air, angin, kejang pada tenggorokan, atau takut terhadap cahaya, suara, berkeringat, mengeluarkan air liur, mati rasa pada tempat gigitan, ankilosis, dan sensasi tidak lazim lainnya. Diagnosis laboratorium, yang merupakan sarana untuk memastikan diagnosis sepenuhnya, bergantung pada pengujian antigen virus, asam nukleat virus atau isolasi virus, dan adanya vesikel endogen dalam jaringan otak pada saat otopsi. Masih ada kekurangan pengobatan yang efektif untuk rabies dan tingkat kematian hampir 100 persen setelah penyakit ini berkembang.