Parkinson biasanya dirujuk ke neurologi karena Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif intrakranial yang umumnya bermanifestasi sebagai gangguan gerakan. Begitu gangguan gerakan dan ketidaknyamanan anggota tubuh terjadi, penting untuk mengunjungi ahli saraf. Dokter spesialis saraf biasanya akan melakukan serangkaian tes pada pasien, dimulai dengan riwayat medis dan pemeriksaan fisik klinis. Pemeriksaan fisik akan berfokus pada tonus otot, yang akan menunjukkan tonus otot dan peningkatan tonus otot. Kemudian diikuti dengan tes kimia darah, termasuk pemeriksaan darah rutin, fungsi hati dan fungsi ginjal, serta tes pencitraan, termasuk CT dan MRI. Namun, tes-tes ini tidak terlalu berguna dalam diagnosis Parkinson. Fokusnya lebih pada presentasi klinis. Tujuan utama dari tes-tes ini adalah untuk menyingkirkan penyakit lain, termasuk sindrom Parkinson vaskular dan penyakit sekunder. Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan memberikan rencana perawatan yang masuk akal. Pengobatan didasarkan pada kondisi pasien dan pengobatan ditunda selama tidak mempengaruhi kualitas hidup. Intervensi farmakologis juga dapat diberikan lebih awal jika pasien memiliki tuntutan hidup yang tinggi. Tahap akhir biasanya berupa pengobatan simtomatik untuk meminimalkan komplikasi dan mempertahankan hidup.