Cara mempelajari tiroksin

  A. Faktor genetik: Sekitar 1/4 sampai 1/5 orang dengan skizofrenia memiliki pasien dengan gangguan kejiwaan dalam keluarga mereka.  B. Perubahan patologis pada zat neurobiokimia (neurotransmiter) di otak: Studi laboratorium selama 30 tahun terakhir telah menegaskan bahwa perubahan neurobiokimia otak memiliki dampak yang signifikan pada aktivitas mental seseorang. Faktor utama yang terkait dengan perkembangan penyakit ini adalah hiperfungsi dopamin (DA) atau peningkatan sensitivitas reseptor dopamin.  C. Faktor somatobiologis: Faktor endokrin adalah penting, dengan mayoritas pasien mengalami onset sekitar masa pubertas, sehingga dinamakan skizofrenia “remaja”. Beberapa pasien wanita mengalami onset akut setelah melahirkan, dan ada lebih banyak kekambuhan selama menopause.  D. Ciri-ciri kepribadian pra-morbid: Sekitar 70% pasien dengan gangguan ini menarik diri, penakut, introvert, sensitif, fantastis, dan tidak memiliki logika dalam pemikiran mereka.  E. Faktor psikososial: Faktor psikososial klinis yang umum termasuk perselisihan keluarga, perselisihan lingkungan, kematian kerabat, frustrasi di tempat kerja atau dalam cinta, dll., yaitu stimulasi mental pra-morbid.  Singkatnya, faktor genetik memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit ini. Sebagian besar pasien memiliki ciri-ciri kepribadian introvert, sementara faktor psikososial dan faktor biologis fisik tertentu dapat bertindak sebagai faktor risiko dan mempengaruhi perkembangan penyakit ini.  Gejala-gejala penyakit ini kompleks dan bervariasi. Gejala awal terkait dengan bentuk onset (akut, subakut, atau kronis) dan tipe klinis. Onset lambat adalah kondisi klinis yang paling umum. Sebagian besar gejala awal adalah perubahan kepribadian dan gejala seperti neurotik, seperti kepribadian yang tidak normal, kemalasan, kurang disiplin, amukan amarah yang tidak beralasan, sensitivitas, paranoia, bicara sendiri, tawa sendiri, atau ketakutan yang tidak dapat dijelaskan. Sebagian pasien mengalami sakit kepala, insomnia, ketidakstabilan emosi, dan berkurangnya kemampuan untuk belajar dan bekerja. Beberapa pasien juga takut menjadi kotor, mengatakan hal yang salah atau mengatakan hal yang salah, dan gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kategori utama: gejala karakteristik dan gejala umum lainnya. Yang pertama mencerminkan karakteristik “skizofrenia”, sedangkan yang kedua juga dapat dilihat pada gangguan kejiwaan fungsional atau organik lainnya. Gejala umum lainnya termasuk halusinasi verbal, sindrom persepsi (melihat wajah seseorang menjadi lebih panjang, memiliki mata yang besar atau melihat wajah sendiri menjadi jelek, atau merasakan kepala seseorang meninggalkan tubuhnya) dan delusi. Skizofrenia menyebabkan gangguan dalam regulasi fungsi endokrin yang telah menarik bagi komunitas medis, dan artikel ini mengulas korelasi antara skizofrenia dan tiroksin. Hal ini mencakup tiroksin dan gejala psikotik skizofrenia, serta relevansi tiroksin dengan pengobatan.