Kecanduan alkohol telah mereplikasi mekanisme etiologi biologis, psikologis, dan sosial, dengan manifestasi klinis yang direplikasi. Selain ketergantungan psikologis dan fisik (gejala putus zat), kecanduan alkohol juga sering kali disertai dengan kerusakan psikoneurologis dan berbagai komplikasi fisik, yang juga secara serius mengganggu fungsi psikologis, keluarga, pekerjaan, dan sosial individu. Oleh karena itu, model rehabilitasi medis, psiko-perilaku, dan sosial yang komprehensif harus diadopsi untuk mengobati kecanduan alkohol dan berbagai gangguannya untuk mencapai prognosis yang baik dan mencapai tujuan untuk tidak minum alkohol sama sekali. Pasien ketergantungan alkohol umumnya memiliki kondisi fisik yang buruk dan menderita malnutrisi, sehingga pengobatan Tiongkok harus digunakan untuk mengatur fungsi organ dalam tubuh dan meningkatkan kesehatan tubuh. Pada saat yang sama, melalui stimulasi obat, buatlah perlindungan keengganan, sehingga ketika pasien minum lagi, akan timbul rasa mual, muntah, dan rangsangan buruk lainnya, sehingga membuat pasien menolak alkohol dan akhirnya mencapai tujuan untuk tidak minum. 2. Rehabilitasi psikososial memotivasi pecandu untuk berubah; meningkatkan kepatuhan dan ketaatan terhadap pengobatan; memperbaiki hubungan keluarga; memperbaiki masalah perilaku psikologis; meningkatkan fungsi psikologis dan mengatasi stres; pencegahan kekambuhan; membangun sistem dukungan sosial; membangun kembali gaya hidup yang sehat dan memperbaiki kepribadian yang tidak sehat.