Penderita refluks asam yang tidak mengalami ketidaknyamanan setelah makan telur dapat memakannya secara normal, tetapi jika mengalami ketidaknyamanan, mereka harus mengurangi atau menghindari makan telur dan melakukan penyesuaian pola makan di bawah bimbingan dokter. Telur tidak terdaftar sebagai kontraindikasi diet yang ketat untuk refluks asam lambung, dan sebagai makanan berprotein tinggi, konsumsi telur dalam jumlah sedang memiliki arti positif untuk pemulihan penyakit. Namun, telur memiliki kelemahan karena sulit dicerna dan dapat merangsang peningkatan sekresi asam lambung, sehingga memperparah gejala refluks asam lambung. Selain itu, efek konsumsi telur pada tubuh dapat bervariasi, tergantung pada kondisi fisik individu, jumlah telur yang dikonsumsi, dan pertimbangan diet lainnya. Oleh karena itu, apakah seseorang dengan refluks asam biasanya dapat mengonsumsi telur atau tidak harus ditentukan oleh reaksi pasien terhadap telur, dan jika tidak ada reaksi yang merugikan terhadap telur, maka telur dapat dikonsumsi dalam jumlah sedang, dan jika terjadi kejengkelan gejala atau ketidaknyamanan lainnya, maka konsumsi telur harus dikurangi atau bahkan dihindari. Sebagai kesimpulan, penderita refluks asam lambung harus melakukan penyesuaian pola makan di bawah bimbingan dokter sesuai dengan situasi yang sebenarnya untuk mengupayakan prognosis yang baik. Jangan sembarangan mengonsumsi telur dalam jumlah besar untuk menghindari konsekuensi yang merugikan.