Tes untuk brucellosis dibagi menjadi metode klinis dan tes diagnostik. 1. Metode klinis: Brucellosis harus dicurigai jika terdapat tanda dan gejala yang sesuai (demam, malaise, keringat malam, dan artralgia) dengan adanya paparan epidemiologis yang relevan. Diagnosis brucellosis dapat dipastikan berdasarkan salah satu temuan berikut ini: Brucella abortus dalam darah, cairan tubuh atau kultur jaringan; Titer antibodi Brucella yang diukur dalam sampel serum dari fase pemulihan adalah 4 kali atau lebih banyak daripada fase akut (setidaknya 2 minggu antar sampel). Diagnosis dugaan brucellosis dapat dibuat berdasarkan salah satu dari temuan berikut ini: Sampel serum yang dikumpulkan setelah timbulnya gejala memiliki titer antibodi Brucella total ≥1:160 dengan tes aglutinasi tabung standar; DNA Brucella terdeteksi oleh PCR pada sampel klinis. 2. Tes diagnostik: Untuk pasien yang dicurigai menderita brucellosis, kultur darah dan tes serologis harus dilakukan. Selain itu, tes laboratorium seperti hitung darah lengkap dan tes fungsi hati harus dilakukan. Untuk pasien dengan kultur darah dan tes serologis negatif, pemeriksaan lebih lanjut harus dilakukan secara individual sesuai dengan manifestasi klinis. Sebagai contoh, pasien dengan tanda dan gejala osteoartritis memerlukan analisis dan pencitraan cairan sinovial. Pasien dengan manifestasi neurologis memerlukan pungsi lumbal; prosedur ini biasanya tidak bersifat diagnostik tetapi dapat membantu membedakan brucellosis dari etiologi lain. Jika hasil pemeriksaan di atas tidak abnormal, sampel biopsi sumsum tulang diperlukan untuk kultur dan pemeriksaan histopatologi. Jika evaluasi sumsum tulang tidak bersifat diagnostik dan terdapat bukti keterlibatan hati (berdasarkan tes fungsi hati dan/atau pencitraan), maka diperlukan biopsi hati.