Pengobatan kanker usus berulang harus merupakan diskusi multidisiplin

   Meskipun pembedahan adalah cara utama untuk mengobati kanker kolorektal, kekambuhan kanker usus setelah pembedahan merupakan faktor kunci yang mempengaruhi hasil akhir, dengan tingkat kekambuhannya mencapai 60% setelah pembedahan.  Kekambuhan kanker usus tidak hanya mencakup metastasis hati dan paru-paru yang jauh, tetapi juga kekambuhan lokal. Metastasis hepatopulmoner masih dapat diobati dengan pembedahan, intervensi dan kemoterapi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Kekambuhan lokal termasuk penyebaran peritoneal, invasi organ yang berdekatan seperti panggul dan dinding perut, ginjal dan adneksa uterus, kandung kemih, prostat dan kelenjar mani, dll., yang merupakan salah satu kesulitan dalam perawatan klinis. Penanganan kanker usus berulang memerlukan pendekatan multidisiplin, termasuk bedah umum, radiologi, onkologi medis, radioterapi, patologi, urologi, obstetri dan ginekologi, serta onkologi tulang.  Pertama, pencitraan memainkan peran penting dalam diagnosis kanker usus berulang. CT, MRI dan PET-CT dapat mengklarifikasi lokasi, jumlah, ukuran, apakah kelenjar getah bening bermetastasis dan apakah peritoneum bermetastasis, dll. Melalui analisis ahli radiologi terhadap pencitraan, langkah pengobatan berikutnya dapat diputuskan. Kedua, pasien dengan indikasi untuk pembedahan dapat sepenuhnya dinilai oleh dokter bedah umum dan diobati dengan pembedahan jika mereka cocok untuk pembedahan, atau bersama-sama oleh dokter kandungan dan ginekolog jika kanker usus berulang telah menginvasi rahim dan adneksa uterus. Jika menyerang kandung kemih, ureter, dll., maka diperlukan pembedahan umum bersama dengan urologi. Tentu saja, jika tulangnya diserang, maka pembedahan umum yang dikombinasikan dengan onkologi tulang diperlukan untuk mengangkat tulang yang diserang. Kanker usus berulang adalah prosedur yang kompleks, sering kali memerlukan operasi gabungan antara dua departemen atau lebih. Sekali lagi, pasien yang tidak memiliki kemungkinan pembedahan akan memerlukan opsi pengobatan dari onkologi medis atau radioterapi, termasuk kemoterapi dan radioterapi. Kemoterapi adalah pengobatan sistemik yang efektif dalam mengendalikan atau bahkan menghambat pertumbuhan sel tumor pada kanker usus. Radioterapi adalah pengobatan lokal yang dapat memperbaiki gejala lokal seperti tekanan dan invasi. Sebagian pasien mungkin juga ditawari kemungkinan pembedahan setelah radioterapi dan kemudian menjalani pembedahan. Selain itu, patologi dapat mengklarifikasi sifat patologis lesi, yang merupakan standar emas untuk diagnosis klinis. Tes genetik dan tes imunologi juga penting untuk pemilihan opsi pengobatan dan prognosis pasien.  Kesimpulannya, diagnosis dan pengobatan kanker usus berulang adalah salah satu masalah klinis yang paling sulit, yang sering kali memerlukan kombinasi spesialis dari berbagai departemen untuk menilai dan memberikan rencana pengobatan individual yang paling tepat bagi pasien.