Apakah tes fungsi ginjal merupakan tes darah atau tes urine?

Ada banyak indikator tes fungsi ginjal, baik tes darah maupun tes urin. Tes yang umum digunakan meliputi kreatinin darah, nitrogen urea darah, tes mikroalbumin urin, kuantifikasi protein urin 24 jam, sistatin C serum, dan ultrasonografi saluran kemih. Kreatinin darah adalah produk akhir metabolisme kreatin dalam jaringan otot. Ketika parenkim ginjal rusak, laju filtrasi glomerulus menurun dan konsentrasi kreatinin darah meningkat, sehingga konsentrasi kreatinin darah dapat digunakan sebagai indikator gangguan laju filtrasi glomerulus. Nitrogen urea darah adalah produk akhir dari metabolisme protein. Ketika fungsi ginjal terganggu, laju filtrasi glomerulus menurun dan konsentrasi nitrogen urea darah meningkat. Tes mikroalbumin urin dan kuantifikasi protein urin 24 jam dapat mencerminkan gangguan penghalang filtrasi glomerulus. Sistatin C serum hampir seluruhnya diambil dan dipecah oleh sel epitel dalam tubulus proksimal, dan hanya diekskresikan dalam jumlah kecil dalam urin, sehingga kadarnya merupakan indikator yang sensitif dan spesifik untuk fungsi filtrasi glomerulus. Ultrasonografi urologi dapat memberikan ukuran ginjal, morfologi selubung ginjal, ketebalan parenkim ginjal dan kekuatan gema, yang dapat membantu untuk identifikasi klinis gagal ginjal akut dan kronis. Ultrasonografi juga dapat membantu pemahaman klinis mengenai adanya faktor penghalang seperti batu. Ultrasonografi juga sensitif terhadap penyakit kistik ginjal yang umum. Jika pasien perlu menjalani tes fungsi ginjal, dianjurkan untuk pergi ke rumah sakit biasa agar hasil tes diresepkan dan dievaluasi oleh profesional medis.