Hipertonia dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti cedera otak traumatis, kelainan perkembangan bawaan, lesi kerucut, dan lesi pada sistem nigrostriatal.
1. Cedera Otak Traumatis: Misalnya, penggunaan tang yang tidak tepat saat melahirkan atau jatuh secara tidak sengaja yang mengakibatkan cedera otak dapat menyebabkan bayi mengalami distosia tinggi dan mungkin menunjukkan postur tubuh yang tidak normal, seperti kaki gunting.
2. Kelainan perkembangan bawaan: misalnya, jika anak juga memiliki penyakit metabolik genetik seperti hepatomegali, hal ini dapat menyebabkan perubahan pada tonus otot anak, yang dapat menyebabkan tonus otot yang tinggi.
3. Lesi pada saluran piramidal: misalnya, cerebral palsy, penyakit serebrovaskular, dll., dapat menyebabkan kerusakan saraf motorik, yang dapat menyebabkan peningkatan tonus otot.
4. Lesi sistem nigrostriatal: umumnya terlihat pada penyakit Parkinson, yang dapat dengan mudah menyebabkan kerusakan pada sistem ekstrapiramidal dan sistem nigrostriatal otak, yang mengakibatkan peningkatan tonus otot, yang juga dapat disertai dengan gangguan keseimbangan postural, keterbelakangan motorik, dan manifestasi lainnya.
Dianjurkan agar pasien dengan gejala hipertonia harus berkonsultasi dengan dokter tepat waktu dan di bawah bimbingan dokter profesional untuk menghindari konsekuensi yang merugikan.