I. Apa peran DHA? 1. Untuk janin: Janin perlu mengandalkan DHA untuk mengoptimalkan perkembangan fungsi visual dan kognitif. Pada akhir kehamilan, DHA lebih disukai diserap oleh otak yang berkembang pesat dan diperkaya dalam materi abu-abu otak dan retina. 2. Untuk ibu hamil: Asupan DHA yang tepat oleh wanita selama kehamilan dapat mengurangi penyakit yang berhubungan dengan peradangan seperti persalinan prematur, pre-eklampsia dan gangguan alergi/atopik pada keturunan. Kedua, dari mana DHA berasal? 1. Ikan (termasuk ikan bersirip dan hewan air bercangkang) adalah makanan sehat yang rendah lemak jenuh dan kaya protein, dan juga merupakan sumber makanan utama DHA dan EPA. 2. Suplemen minyak ikan atau minyak rumput laut. Bagaimana cara menambah DHA? 1. Untuk wanita yang sedang mempersiapkan kehamilan, sedang hamil atau sedang menyusui, kelompok ahli global merekomendasikan bahwa asupan minimum DHA adalah 200-300mg/d. 2. Wanita hamil harus mengonsumsi 2-3 porsi ikan per minggu. 3. Karena sebagian besar asupan ikan pada wanita hamil tidak memenuhi tingkat asupan DHA yang direkomendasikan oleh kelompok ahli, maka disarankan agar wanita hamil mengonsumsi suplemen n-3LCPUFA (misalnya, minyak ikan atau suplemen yang berasal dari ganggang) atau makanan yang diperkaya dengan n-3LCPUFA. Produk-produk ini merupakan sumber alternatif DHA dan EPA bagi wanita yang tidak dapat atau tidak mau mengonsumsi ikan, tetapi efeknya mungkin tidak sepenuhnya setara. IV. Apakah suplementasi DHA aman? 1. Karena asupan ikan oleh wanita hamil dapat membuat janin terpapar metilmerkuri dan kontaminan lingkungan lainnya pada ikan, maka pedoman untuk asupan ikan selama kehamilan menekankan pada pemilihan ikan yang rendah merkuri dan tinggi DHA. Merkuri terdapat di semua jaringan ikan, tidak dapat dihilangkan dengan cara dimasak, dan diserap oleh saluran pencernaan ibu dengan tingkat lebih dari 95 persen. 2. Otak janin sekarang diketahui sebagai jaringan yang paling rentan terhadap merkuri. Paparan metilmerkuri pada janin dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang menyebar dan meluas, seperti keracunan merkuri di seluruh masyarakat yang terjadi di Jepang (penyakit Minamata) dan Irak. Di komunitas-komunitas ini, wanita hamil yang terpapar metilmerkuri tingkat tinggi tidak menunjukkan gejala, tetapi anak-anak mereka mengalami keterlambatan perkembangan dan, dalam beberapa kasus, defisit neurologis yang sangat parah, termasuk kebutaan, ketulian, dan lumpuh otak. 3. Suplemen minyak ikan hampir bebas dari merkuri karena minyak ikan biasanya berasal dari ikan pelagis kecil yang digunakan untuk membuat pakan ikan atau dari olahan rumput laut. Selain itu, sebagian besar suplemen minyak ikan telah dimurnikan untuk mengurangi racun lingkungan ke tingkat yang dapat diabaikan. Namun, suplemen dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tidak menyenangkan, yang paling umum adalah gangguan pencernaan (misalnya mual), dan suplemen minyak ikan juga dapat menyebabkan sendawa (bersendawa) yang diikuti dengan “rasa amis”, bau mulut, mulas, dan bau keringat. Kelima, tindakan pencegahan suplementasi DHA 1, suplemen DHA yang mengandung minyak ikan atau ganggang memiliki berbagai pilihan dosis, disarankan untuk memilih sediaan untuk wanita hamil. 2, kandungan EPA dan DHA bervariasi dari satu produk ke produk lainnya. Produk-produk ini juga mengandung n-3LCPUFA lainnya, lemak tak jenuh tunggal, lemak jenuh, gelatin, atau gliserol; dalam kapsul minyak ikan 1000mg, kandungan DHA dan EPA biasanya ≤500mg. 3, minyak ikan kod memiliki kandungan EPA dan DHA yang tinggi, tetapi tidak sebagus minyak ikan lainnya karena mengandung Vitamin A, yang memiliki efek teratogenik bila digunakan dalam dosis besar. Jika suplemen minyak ikan menghasilkan bau amis, suplemen tersebut dapat dibekukan dan disimpan, diganti dengan sediaan lain, dikonsumsi bersamaan dengan makanan, atau waktu asupannya dapat diubah. 5. Ada banyak makanan yang diperkaya DHA yang tersedia, termasuk yoghurt, susu, telur, dan sereal. Namun, banyak makanan yang diperkaya mengandung n-3LCPUFA (ALA) nabati dan bukan n-3LCPUFA laut, yang tidak dapat digunakan sebagai pengganti EPA dan DHA karena tingkat konversinya yang rendah. 6. Kualitas suplemen minyak ikan bervariasi, dan tidak ada badan pengawas yang memantaunya secara memadai untuk memastikan bahwa kandungan EPA dan DHA dari produk tersebut sesuai dengan label.