I. Anak menumpahkan air, susu, dll. ke seluruh meja Kesalahan: Katakan pada anak, “Mengapa kamu begitu bodoh? Kamu bahkan tidak bisa memegang cangkir.” Beberapa orang tua bahkan menampar wajah anak. Hasilnya: Orang dewasa dan anak menjadi marah, keadaan menjadi berantakan dan anak belajar menyelesaikan masalah dengan mengamuk dan memukul orang lain. Hal yang tepat untuk dilakukan: yakinkan anak: “Tidak apa-apa, saya tahu kamu tidak bermaksud melakukannya, jadi berhati-hatilah lain kali. Maukah kamu mengelap meja sampai bersih?” Hasilnya: Anak mengerti dan segera meminta maaf kepada orang dewasa dan dengan senang hati mengelap meja hingga bersih. Anak belajar untuk bersikap toleran. Kesalahan: Mendisiplinkan anak: “Lihatlah kamu, kamu mendapat nilai yang rendah, tidakkah kamu malu pada dirimu sendiri? Lihat siapa saja, bagaimana mereka bisa mendapat nilai seratus? Kamu sangat bodoh! Saya sangat marah.” Beberapa bahkan menendang anak itu beberapa kali. Hasilnya: anak berada dalam suasana hati yang buruk, berpikir, “Saya sudah selesai, saya sangat bodoh, saya tidak bisa belajar lagi, tidak peduli seberapa banyak saya belajar.” Pendekatan yang tepat: hiburlah anak Anda: “Nak, saya tahu kamu juga sedang tidak enak badan, satu kegagalan tidak berarti apa-apa, kuncinya adalah mencari tahu mengapa kamu tidak berhasil dengan baik dan kemudian menyelesaikannya, oke, saya akan menganalisanya bersama kamu. Saya yakin kamu akan membuat kemajuan di lain waktu.” Hasilnya: anak dengan serius mencari tahu alasannya, sambil berpikir: “Saya ingin bekerja keras, untuk memenuhi harapan ayah dan ibu, saya akan melakukannya.” Ketiga, anak menulis pekerjaan rumah menggiling, sudah waktunya tidur, pekerjaan rumah belum selesai. (Pekerjaan rumah anak-anak, anak-anak tidak menggiling, tidak di sini) pendekatan yang salah: menegur anak: “Kamu marah padaku, bagaimana tidak selesai menulis lagi, aku tidak bisa melihat sebentar, cepat tulis! Saya sedang mengawasimu.” Hasil: Anak tidak terburu-buru dan terus meluangkan waktu, sambil berpikir, “Saya tidak bisa menyelesaikannya, ibu saya yang akan menyelesaikannya.” Hal yang benar untuk dilakukan: Dengan serius dan tenang katakan kepada anak Anda, “Nak, menulis PR adalah urusanmu, kamu bertanggung jawab atas urusanmu sendiri. Hasil: Anak menyadari kesalahannya dan menyesalinya, sambil berpikir, “Ini akhirnya, bagaimana cara memberi tahu guru, sepertinya besok PR harus cepat selesai, kalau tidak akan tetap dikritik.” Keempat, pekerjaan rumah anak dicoret-coret Pendekatan yang salah: marah: “Mengapa kamu menulis begitu berantakan, tidak bisakah kamu menulis dengan lebih baik?” Jika Anda marah, Anda akan mencoret-coret pekerjaan rumah anak Anda. Hasilnya: Anak bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hal yang benar untuk dilakukan: Katakan kepada anak Anda dengan serius dan tenang: “Anakku, saya sudah mengatakan bahwa kamu harus menulis ulang pekerjaanmu jika tidak rapi karena guru tidak dapat melihatnya dengan jelas jika tidak rapi, dan kamu tahu, ini adalah peraturan yang tidak dapat dilanggar, jadi kamu harus menulis ulang. Kamu tahu, kamu bisa dan harus menulis seperti ini (ceritakan tentang norma-norma penulisan, horizontal dan vertikal, ukuran yang konsisten.) Nak, kamu hanya perlu menulis dengan cara yang merupakan perbaikan dari apa yang baru saja kamu tulis (bandingkan dengan tulisanmu sendiri), apakah kamu percaya diri?” Hasil: Anak memahami pentingnya aturan dan berpikir dalam hati, “Mudah sekali memperbaiki tulisan yang baru saja kamu buat.” Penuh percaya diri. V. Anak tidak menyapa orang lain dan tidak memiliki sopan santun Kesalahan: menegur anak di depan umum: “Mengapa anak ini sangat tidak sopan? Kamu bahkan tidak bisa menyapa, bagaimana saya mengajarimu secara normal, tidak baik.” Hasil: Harga diri anak sangat rusak dan ia merasa malu dan rendah diri. Hal yang benar untuk dilakukan: beri anak Anda waktu untuk mundur: “Anak saya sedikit malu, ini akan membaik, dia biasanya cukup sopan.” Berikan contoh untuk bersikap sopan. Hasil: Anak tahu bahwa itu salah dan berpikir, “Saya tidak melakukannya dengan benar kali ini, saya akan melakukannya dengan benar lain kali, saya tidak bisa mengecewakan orang tua saya.” VI. Kaus kaki anak kotor Kesalahan: orang tua: “Lepaskan kaus kakimu dan saya akan mencucinya untukmu.” Hasil: Anak menerimanya dengan tenang, berpikir dalam hatinya bahwa orangtuanya ada untuk melayaninya dan bahwa itu adalah hal yang normal dan mereka tidak lelah. Hal yang benar untuk dilakukan: Bicaralah kepada anak Anda: “Nak, bisakah kamu mencuci kaos kakimu sendiri? Ibu sangat lelah hari ini, bisakah kamu mencuci kaus kaki ibu juga? Terima kasih, anakku.” Hasil: Anak merasa dihormati dan pergi mencuci kaus kakinya, sambil berpikir: “Saya harus lebih peduli pada ayah dan ibu di masa depan, saya juga anggota keluarga, mereka sudah semakin tua.” Enam: anak mengajukan pertanyaan yang tidak akan ditanggapi oleh orang dewasa Kesalahan: kesal: “Jangan mengajukan pertanyaan yang membabi buta, belajarlah dengan benar, kamu tidak tahu apa yang harus dipikirkan setiap hari.” Hasil: anak berpikir, “Hei, ini tidak menyenangkan, selalu berbicara tentang belajar dan belajar, itu menjengkelkan, jangan bertanya.” Sejak saat itu, ia akan melewatkan masalah-masalah yang sulit dan tidak berusaha memahaminya. Pendekatan yang tepat: Bergembiralah: “Nak, kamu bisa mengajukan pertanyaan yang sulit, yang membuktikan bahwa kamu telah menggunakan otakmu, bagus. Tapi ibu tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya, jadi mari kita kerjakan bersama, ya?” Hasilnya: anak sangat senang sehingga ia akan gigih di masa depan dan harus belajar dan memahami masalahnya. 7. Anak tidak bangun di pagi hari Kesalahan: marah: “Kenapa kamu tidak bangun? Kamu akan terlambat!” Tampar anak Anda dua kali dan berebut mencari pakaian untuk dikenakannya. Hasilnya: Hal yang sama terjadi di lain waktu. Hal yang benar untuk dilakukan: dengan tenang katakan, “Nak, Mama hanya akan memanggilmu sekali, jika kamu tidak bangun, kamu akan terlambat dan kamu akan dikritik, ini urusanmu sendiri, kamu akan menanganinya sendiri.” Anak tidak bangun tepat waktu untuk sarapan dan terlambat. Hasilnya: lain kali bangun ketika dipanggil. Delapan: Menonton TV sepanjang waktu dan tidak tidur atau mengerjakan PR Pendekatan yang salah: dengan marah mematikan TV dan meneriaki anak Anda untuk mengerjakan PR atau tidur. Hasilnya: Anak akan marah-marah, membenci Anda dan menyebut Anda tiran. Hal yang tepat untuk dilakukan: katakan dengan tenang kepada anak Anda, “Saatnya mengerjakan PR, Nak, dan kamu akan dikritik jika tidak menyelesaikannya. Berapa lama lagi kamu ingin menonton?” Anak: “Bolehkah aku menonton selama 10 menit lagi?” Orangtua: “Ya, tepati janjimu, dan matikan TV jika sudah waktunya.” Masing-masing pihak mundur selangkah. Hasil: Ketika waktunya habis, anak mematikan TV dan pergi tidur atau mengerjakan pekerjaan rumahnya. Kesalahan: Menonton TV sambil mengawasi anak, sambil berteriak: “Tulis lebih cepat.” “Jangan membuang waktu.” “Jangan menonton TV, belajarlah yang rajin.” Hasil: anak kesal: “Mengapa kamu boleh menonton TV, sedangkan aku tidak, ini tidak adil.” Hal yang benar untuk dilakukan: orang dewasa juga membaca buku, tanpa mengganggu anak, dan rumah memiliki suasana belajar yang kuat. Hasilnya: anak merasa tenang dan pikirannya terfokus pada pembelajaran. X. Orang dewasa telah melakukan sesuatu yang salah Pendekatan yang salah: kata-kata yang memaksa atau menutup mata. Hasil: Anak berpikir: “Mengapa Anda tidak bisa mengakui ketika Anda melakukan kesalahan? Baguslah kalau jadi orang dewasa, kamu tidak akan dikritik jika kamu salah.” Hal yang benar untuk dilakukan: akui kesalahan Anda dan minta maaf kepada anak Anda. Hasilnya: anak berinisiatif untuk meminta maaf saat ia melakukan kesalahan di kemudian hari dan merasa sudah sepantasnya. Sebelas: Guru pada pertemuan orang tua murid mengeluh bahwa orang tua murid dikritik oleh guru Pendekatan yang salah: Sesampainya di rumah, orang tua murid melampiaskan kekesalannya kepada anak mereka, dengan memukul dan memarahi anak. Hasilnya: anak tidak memiliki kepercayaan diri dan belajar untuk menjadi kasar atau pengecut, takut untuk mengatakan sesuatu, belajar berbohong, takut untuk mengatakan yang sebenarnya kepada orangtuanya dan takut dipukuli. Pendekatan yang benar: pertama-tama bicarakan tentang kekuatan anak Anda, kemudian analisis alasan kekurangannya, dorong anak Anda dan yakinkan bahwa ia akan berkembang di lain waktu. Pendekatan yang salah: Orang tua mengatur kehidupan anak dengan baik, semuanya adalah pendapat orang dewasa dan anak hanya harus menurut. Hasilnya: anak menjadi boneka, tidak harus menggunakan otaknya, implementasi pasif. Anak menjadi semakin tidak berani, semakin tidak percaya diri, semakin tidak mampu dan semakin tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Hati menjadi semakin jauh dari orang tua, dan anak menjadi mementingkan diri sendiri. Pendekatan yang tepat: Anak-anak melakukan hal-hal mereka sendiri, sendiri, dan juga mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Kami mendiskusikan dan memecahkan masalah di rumah dengan anak-anak kami dan mendorong mereka untuk mengungkapkan pendapat mereka dan mendengarkan dengan seksama. Hasilnya: anak mengembangkan rasa tanggung jawab keluarga, tahu bagaimana merawat orang tuanya, suka berkomunikasi dengan mereka, memiliki kepribadian yang ceria dan percaya diri!