Kelainan fungsi hati terjadi ketika hati terkena berbagai faktor patogen yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel hati dan penyumbatan saluran empedu. Kelainan fungsi hati dapat dilihat dari faktor fisiologis seperti pola makan yang tidak teratur, begadang, merokok dan minum alkohol, serta faktor patologis seperti infeksi virus, infeksi parasit, kerusakan farmakologis, dan autoimun. Indikator tes fungsi hati meliputi aminotransferase, protein serum, faktor pembekuan plasma, kolesterol, bilirubin, dll. Akibat kelainan fungsi hati, pasien akan mengalami kerusakan hepatoseluler, penurunan fungsi sintetis hati dan penurunan metabolisme bilirubin. Indikator-indikator di atas dapat digunakan untuk menilai tingkat gangguan fungsi hati. Untuk kelainan fungsi hati yang ringan, pasien mungkin tidak memiliki gejala, atau hanya memiliki gejala seperti ketidaknyamanan perut, kelelahan, dispepsia, dll. Tes fungsi hati normal atau abnormal ringan. Jika kelainan fungsi hati melebihi kompensasi hati, gejala pasien lebih jelas: hati mengalami berbagai faktor kerusakan, kelainan fungsi hati akan terjadi, dan jika tidak diobati tepat waktu, gagal fungsi hati akan terjadi, dan berbagai komplikasi (ensefalopati hepatik, sindrom hepatorenal, dll.) akan terjadi. Ketika fungsi hati yang tidak normal terdeteksi, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter tepat waktu, yang akan secara komprehensif menentukan tingkat keparahan penyakit dan rencana perawatan selanjutnya berdasarkan riwayat medis, tanda dan gejala, serta tes tambahan lainnya, untuk menghindari penundaan kondisi.