Bagaimana cara mencegah virus hepatitis berkembang menjadi sirosis?

Pengamatan jangka panjang telah menunjukkan bahwa aktivitas virus hepatitis B dan C kronis dapat berkembang menjadi sirosis, dan kemungkinan hepatitis C kronis berubah menjadi sirosis dapat mencapai 50%-80%, di mana 20% di antaranya dapat berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler, dengan jangka waktu yang berbeda-beda, mulai dari 10 tahun hingga 20 tahun. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut: (1) Untuk hepatitis C: segera setelah diagnosis ditegakkan, pengobatan antivirus harus diberikan kepada mereka yang memenuhi kriteria yang sesuai, baik yang akut maupun yang kronis. Efisiensi antivirus dari interferon biasa atau interferon kerja panjang yang dikombinasikan dengan virazol untuk hepatitis C akut dapat mencapai 80-90%, yang lebih baik daripada hepatitis B. Penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan antivirus untuk hepatitis C kronis juga dapat meningkatkan kemanjuran hingga 60-70%. (2) Untuk hepatitis B: HBV DNA (+) dan/atau HBeAg (+) dan fungsi hati yang tidak normal, terapi antivirus direkomendasikan. Saat ini, obat antivirus yang umum digunakan adalah: interferon umum, interferon kerja panjang, lamivudine, adefovir, entecavir, dan telbivudine. Kepatuhan terhadap terapi antivirus dapat menyebabkan penekanan berkelanjutan terhadap kadar DNA HBV, serokonversi HBeAg dan perbaikan histologi biopsi hati, sehingga mencegah perkembangan fibrosis dengan memperbaiki nekrosis inflamasi. Pengobatan harus di bawah pengawasan medis dan tidak boleh dihentikan sesuka hati. (3) Mencegah nekrosis hepatosit, mendorong perbaikan hepatosit dan meningkatkan fungsi hati: Mendorong pembentukan sirosis disebabkan oleh peradangan dan nekrosis hepatosit yang terus menerus. Oleh karena itu, mengurangi nekrosis hepatosit dan meningkatkan perbaikan hepatosit adalah kunci untuk mencegah perkembangan sirosis. Bagi mereka yang mengalami kerusakan hati yang signifikan, kami merekomendasikan rawat inap di rumah sakit sebagai pengobatan terbaik. (4) Istirahat dan nutrisi: istirahat di tempat tidur dianjurkan selama fase aktif penyakit hati, dan setelah kondisinya membaik, disarankan untuk secara bertahap meningkatkan jumlah aktivitas dan menggabungkan kerja dan istirahat. (5) Riwayat konsumsi alkohol: alkohol harus dihindari karena diketahui dapat memperparah hepatitis. (6) Hindari obat-obatan yang merusak hati: banyak obat yang harus didetoksifikasi oleh hati, jadi gunakanlah dengan hemat, terutama yang merusak hati. Mereka yang harus menggunakan obat harus melakukannya di bawah bimbingan dokter. Diet tinggi protein, serat, vitamin, dan makanan yang mudah dicerna sangat dianjurkan. Makanlah banyak sayuran, karbohidrat dan lemak dalam jumlah sedang. (7) Pemeriksaan rutin: Pasien dengan hepatitis B dan C kronis harus melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit. Terlepas dari apakah fungsi hati normal atau tidak, USG harus dilakukan secara teratur untuk pengamatan dinamis dan serangkaian tes serum untuk memahami perkembangan penyakit dan untuk menyesuaikan pengobatan setiap saat.