Tubuh mengandung zat yang disebut prostaglandin, yang memperkuat sinyal ‘rasa sakit’ ketika orang merasakan nyeri. Karena alasan ini, banyak obat penghilang rasa sakit yang bekerja dengan cara menghambat pelepasan prostaglandin, termasuk yang sudah dikenal seperti Fen-Phen, Aspirin, dan Painkiller. Selain memperkuat sinyal rasa sakit, prostaglandin juga berperan penting dalam melindungi mukosa lambung. Ketika sekresi prostaglandin dihambat oleh obat penghilang rasa sakit, mukosa lambung secara alami kehilangan penghalang dan cairan pencernaan yang bersifat asam di dalam lambung dapat memanfaatkan situasi tersebut untuk mengiritasi dan merusak lapisan lambung, sehingga menyebabkan borok, erosi, dan bahkan pendarahan. Jika seorang “penderita lambung” secara membabi buta menggunakan obat penghilang rasa sakit saat ia mengalami “sakit perut”, ada risiko tinggi bahwa: 1. penggunaan obat penghilang rasa sakit akan menutupi kondisi pasien dan menyebabkan kemunduran kondisi secara bertahap; 2. selaput lendir lambung yang sudah terluka tidak terlindungi, yang mengarah pada perkembangan “maag”. 2. Selaput lendir lambung yang sudah terluka dapat menjadi tidak terlindungi, yang menyebabkan situasi berbahaya seperti “ulserasi, erosi, atau bahkan pendarahan melalui perforasi”. Kiat dokter: Kesimpulannya, obat penghilang rasa sakit adalah obat, dan mereka beracun.