Dapatkah splenomegali diobati dengan pembedahan invasif minimal



Splenomegali dapat disebabkan oleh virus hepatitis, anemia hemolitik, sirosis, dan penyakit lainnya, dan perlu untuk menilai apakah perawatan bedah invasif minimal dapat dilakukan sesuai dengan tingkat penyakit dan kondisi aslinya.

1. Hepatitis virus: Biasanya untuk pasien dengan kondisi yang relatif ringan, mereka perlu lebih memperhatikan istirahat, merencanakan diet secara wajar dan minum obat di bawah bimbingan dokter, dan umumnya tidak perlu menjalani perawatan bedah. Jika kondisi pasien lebih serius, maka perlu dilakukan transplantasi hati buatan atau transplantasi hati pada waktunya, biasanya bukan operasi invasif minimal.

2. Anemia hemolitik: Biasanya, pasien perlu menggunakan glukokortikosteroid, imunosupresan, dan obat lain sesuai dengan penyebab penyakit, dan tidak perlu menjalani operasi invasif minimal. Namun, untuk sferositosis herediter, talasemia, dan anemia autoimun, splenektomi juga diperlukan dan pembedahan invasif minimal dapat dilakukan.

3. Sirosis: Biasanya, pasien perlu mengikuti instruksi dokter untuk menggunakan obat antivirus dan perawatan lainnya, dan jika perlu, juga perlu menjalani transplantasi hati, umumnya tidak perlu menjalani pembedahan invasif minimal.

Jika kondisi pasien berkembang ke stadium lanjut, dengan komplikasi seperti asites dan pecahnya vena gastroesofagus serta perdarahan, pembedahan invasif minimal dapat dilakukan. Prosedur klinis yang umum dilakukan meliputi pirau portosystemic vena transjugularis, splenektomi ruptur esofagogastrik selektif laparoskopi dan sebagainya.

Jika splenomegali memerlukan splenektomi, maka dapat juga ditangani secara minimal invasif dengan laparoskopi.

Disarankan agar pasien dengan splenomegali harus mengidentifikasi penyebab penyakitnya tepat waktu dan menjalani pengobatan yang wajar, dan obat-obatan harus digunakan di bawah bimbingan dokter.