Melakukan aborsi tidak sepenuhnya aman dan ada risikonya. Risikonya terutama tercermin dalam aspek-aspek berikut: pertama, ada risiko infeksi selama prosedur. Prosedur aborsi dilakukan dari vagina, leher rahim dan masuk ke dalam rongga rahim, dari lingkungan yang terkontaminasi ke lingkungan yang relatif bersih. Jika desinfeksi tidak dilakukan, ada risiko tinggi infeksi hulu. Hal ini dapat menyebabkan sakit perut, kegagalan tuba falopi, dll., yang dapat berdampak pada kesehatan dan reproduksi pasien. Kedua, terdapat risiko perforasi rahim, kerusakan berlebihan pada endometrium atau perdarahan selama prosedur. Oleh karena itu, pasien harus diperiksa secara menyeluruh dan dipersiapkan untuk persiapan darah dan transfusi sebelum melakukan aborsi. Pasien juga disarankan untuk membersihkan rahimnya di bawah pengawasan USG untuk menghindari perforasi selama prosedur. Jika terjadi perdarahan atau perforasi, pengobatan juga dapat dilakukan tepat waktu. Ketiga, setelah prosedur aborsi, pasien dapat mengalami berbagai risiko seperti perlengketan di rongga rahim, amenorea dan infertilitas, yang memiliki dampak jangka panjang pada pasien.