Kita dapat mempertimbangkan untuk beralih ke entecavir setelah delapan tahun memakai adefovir, walau penyesuaian harus dilakukan di bawah bimbingan dokter spesialis.
Mengonsumsi adefovir dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan munculnya resistensi obat, dalam hal ini dapat diganti dengan obat antivirus yang kurang resisten, seperti analog nukleotida, yang salah satunya adalah entecavir, di bawah bimbingan dokter spesialis.
Setelah mengganti adefovir dengan entecavir, pasien perlu melakukan tes fungsi hati, USG hati dan kandung empedu, dan kuantifikasi DNA virus hepatitis B setiap 3 bulan sekali untuk menghindari kelainan fungsi hati.
Efek samping dari adefovir termasuk sakit kepala, mual, diare, sakit perut, dan dispepsia, dan merupakan kontraindikasi pada mereka yang alergi terhadap adefovir; efek samping dari entecavir termasuk mual, sakit kepala, pusing, dan kelelahan, dan merupakan kontraindikasi pada mereka yang alergi terhadap entecavir.
Selain itu, penerapan obat di atas memiliki risiko tertentu, pasien perlu mendapatkan bimbingan dokter spesialis, jangan sampai lalai, agar tidak menunda kondisinya.