Autisme pada masa kanak-kanak adalah sekelompok gangguan yang ditandai dengan kesepian, kurangnya respons emosional, gangguan perkembangan bahasa, gerakan stereotip yang berulang-ulang, dan reaksi yang aneh terhadap lingkungan. Tanda-tanda awal autisme pada masa kanak-kanak antara lain tidak tersenyum kepada keluarga, tidak mengulurkan tangan untuk digendong, dan tidak menempelkan tubuh ke ibu. ibu. Anak-anak dengan kesulitan sosial sangat terisolasi, kurang interaksi dan hubungan emosional, bahkan dengan orang tua mereka, seolah-olah mereka adalah orang asing. Namun, mereka tidak merasa terintimidasi oleh orang asing. Sementara anak-anak normal sering mengekspresikan perasaan dan permintaan mereka dengan menatap satu sama lain, anak-anak dengan kesulitan sosial tidak memiliki tatapan mata dan tidak mengekspresikan perasaan dan permintaan mereka dengan cara ini. Mereka jarang bermain dengan anak-anak, kurang memiliki respons emosional dan sering mengatakan atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai secara sosial. Anak-anak dengan keterlambatan bahasa memiliki tingkat pemahaman bahasa yang rendah, tidak dapat memahami kalimat yang sedikit lebih kompleks dan tidak dapat menggunakan isyarat untuk mengatakan ‘selamat tinggal’. Mereka tidak memahami dan menggunakan ekspresi wajah, gerakan, gerak tubuh, dan nada untuk berinteraksi dengan orang lain. Kurangnya imajinasi dan simulasi sosial, dan anak-anak tidak dapat “memasak”, “mengendarai kereta api”, atau “membangun rumah” dengan mainan seperti anak-anak normal. Beberapa anak memiliki bahasa yang stereotip dan menggunakan kata ganti yang salah, seperti “saya mau” dan bukan “kamu mau”. Karena kurangnya variasi dan imajinasi, anak sering bersikeras mengulangi pola bermain yang stereotipikal, seperti berulang kali menjajarkan mainan, selalu memainkan jari-jari kakinya, dan menolak serta kesal dengan perubahan apa pun di kamarnya, seperti pergeseran perabotan atau perubahan dekorasi. Selain itu, beberapa anak mungkin juga mengalami gangguan persepsi, dengan tumpul atau hipersensitif terhadap berbagai indera seperti penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Beberapa memiliki gangguan kognitif, kecerdasan yang rendah dan kemampuan berpikir abstrak yang buruk, dan beberapa anak mungkin mengalami kejang. Penyebab autisme pada anak belum diketahui secara pasti dan saat ini diduga karena faktor genetik, organik, dan lingkungan. Faktor genetik lebih mungkin terjadi pada saudara kandung dari anak-anak dengan autisme daripada yang lain, dengan tingkat yang lebih tinggi pada kembar monozigot, 41% di antaranya memiliki kromosom Y yang panjang. Ayah dan saudara laki-laki mereka juga ditemukan memiliki kromosom Y yang panjang, sehingga menunjukkan adanya hubungan genetik. Faktor organik seperti cedera otak, infeksi rubella pada ibu selama kehamilan, serta riwayat meningitis dan ensefalitis. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa pembesaran tanduk temporal kiri ventrikel lebih sering terjadi pada anak-anak, yang menunjukkan adanya lesi pada struktur lobus temporal medial. Faktor lingkungan Telah disarankan bahwa kurangnya stimulasi yang kaya dan tepat di lingkungan awal kehidupan merupakan faktor penting dalam timbulnya penyakit ini. Anak-anak yang berada di lingkungan yang monoton dalam waktu yang lama menggunakan gerakan berulang untuk stimulasi diri dan menjadi tidak tertarik pada lingkungan luar. Beberapa anak memiliki orang tua yang merupakan profesional teknis, berpendidikan tinggi dan cerdas, tetapi stereotip dan sering kali tidak cukup memperhatikan pendidikan awal anak-anak mereka karena kesibukan mereka, misalnya. Prognosis untuk gangguan ini sebagian besar buruk, sering kali dengan gangguan perilaku residual yang membuat adaptasi menjadi sulit dan mencegah mereka untuk hidup mandiri, sementara beberapa orang tumbuh dewasa dan beradaptasi dengan kehidupan sosial. Prognosis terkait dengan tingkat kecerdasan, dan mereka yang mengalami gangguan intelektual berat memiliki prognosis yang buruk. Penanganan yang paling penting untuk anak dengan autisme adalah pendidikan dan terapi perilaku. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendidikan perilaku normal pada anak, terutama koreksi perilaku sosial, koreksi perilaku abnormal, seperti gerakan stereotip, dan menghilangkan gejala sekunder seperti gangguan tidur, tantrum, dan hiperaktif. Anggota keluarga anak juga harus menyadari perlunya mengatasi kecemasan, menyalahkan diri sendiri, dan ketidaksabaran untuk mencapai hasil yang baik dalam perawatan anak. Orang tua harus menyadari tanda dan gejala autisme pada anak dan membawa anak mereka ke unit psikiatri rumah sakit jika mereka memiliki gejala yang sama.