Penyebab lambatnya berpikir meliputi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor psikologis terutama mengacu pada apakah seseorang dapat mengatasi rangsangan eksternal, seberapa besar kemampuan mengatasi dan kapasitas untuk bertahan, dan metode apa yang akan digunakan untuk beradaptasi dengan rangsangan eksternal dan pukulan, dan sebagainya, yang kami sebut kualitas psikologis. Jika kemampuan seseorang untuk bertahan sangat kuat, ia akan mampu bertahan menghadapi pukulan yang besar; sebaliknya, pukulan yang kecil juga dapat memicu depresi. I. Faktor biologis: 1. Aspek genetik. Jika seseorang memiliki riwayat keluarga yang menderita depresi, kemungkinan orang tersebut menderita depresi 10 kali lebih tinggi daripada orang pada umumnya. Faktanya, begitu banyak orang yang mengalami depresi tidak mengalami pukulan sosial yang besar sama sekali, tetapi karena kerentanan genetik atau kerentanan psikologis yang kuat, mereka rentan terhadap depresi. 2, pengaruh obat-obatan. Salah satu faktor paling langsung yang mempengaruhi depresi adalah perubahan beberapa senyawa di otak, seperti obat anti hipertensi dapat menyebabkan perubahan neurotransmitter otak. 3 . Penyakit endokrin tertentu juga dapat menyebabkan perubahan pada otak, seperti hipotiroidisme, yang merupakan salah satu faktor biologis yang secara langsung menyebabkan depresi. 4, faktor lain, termasuk kecanduan narkoba, alkoholisme, dll. Dapat menyebabkan perubahan pada beberapa senyawa di otak, yang secara langsung menyebabkan depresi. Kedua, faktor sosial: Faktor sosial adalah sejenis faktor eksternal, seperti seseorang dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar, tekanan kerja, serta ketidakharmonisan keluarga, konflik antar teman dan sebagainya dapat menyebabkan depresi, bahkan bunuh diri. Selain itu, peristiwa negatif yang lebih besar, seperti pengangguran, menjadi janda, kesulitan keuangan juga dapat menyebabkan depresi. 1, depresi genetik dan riwayat keluarga memiliki hubungan yang erat, penelitian menunjukkan bahwa salah satu orang tua mengalami depresi, anak-anak memiliki kemungkinan 25% terkena penyakit ini, jika kedua orang tua mengidapnya, prevalensi anak-anak 50%-75%. Pemicu lingkungan: peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dan perasaan kehilangan juga dapat memicu depresi, seperti menjadi janda, perceraian, kehilangan pekerjaan dan krisis keuangan. 3, faktor obat: bagi sebagian orang, penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti tekanan darah tinggi, radang sendi, atau obat penyakit Parkinson juga dapat menyebabkan gejala depresi. Penyakit: Pasien yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, dan hipertiroidisme lebih mungkin menderita depresi. 5, kepribadian: harga diri yang rendah, menyalahkan diri sendiri, pesimisme, dll., rentan terhadap depresi. 6, diet: kekurangan asam folat dan vitamin B12 dapat menyebabkan depresi. 7, merokok, alkoholisme, penyalahgunaan narkoba; meminjam alkohol, nikotin dan obat-obatan untuk menenangkan suasana hati, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hal-hal ini sebenarnya dapat memicu depresi.