Apakah Anda tahu sesuatu tentang skizofrenia?

  Skizofrenia adalah sekelompok gangguan kejiwaan dengan etiologi yang berbeda, manifestasi klinis yang berbeda dan hasil yang berbeda, namun dengan beberapa kesamaan. Karena heterogenitas yang signifikan ini, diharapkan bahwa penelitian akan mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan validitas diagnostik, meningkatkan hasil pengobatan dan meningkatkan prediksi hasil.  Meskipun banyak penelitian genetik telah gagal mengidentifikasi gen penyebab skizofrenia, para peneliti mengakui bahwa skizofrenia adalah kelainan genetik poligenik, dan bahwa bukan kelainan itu sendiri yang diwariskan, melainkan kualitas kerentanan terhadap kelainan tersebut. Kerentanan ini, dalam kombinasi dengan lingkungan eksternal, mengarah pada perkembangan skizofrenia.  Ada beberapa hipotesis tentang patogenesis skizofrenia, dari hipotesis dopamin paling awal hingga hipotesis 5-hydroxytryptamine dan hipotesis glutamin, yang semuanya memiliki pengikut dan telah dipelajari tanpa lelah. Hipotesis perkembangan saraf skizofrenia telah berpengaruh sejak tahun 1980-an dan terus berpengaruh hingga saat ini. Hipotesis ini didukung oleh sejumlah temuan termasuk komorbiditas obstetrik dan perinatal, kelainan struktural yang ditemukan pada pencitraan otak in vivo, studi otopsi, kelainan pada penanda sinaptik, efek lingkungan intrauterin yang merugikan, tidak adanya gliosis, dan anomali kongenital.  Neuroimaging, khususnya teknik neuroimaging fungsional dan metode penilaian neuropsikologis yang digunakan dalam pembentukan hipotesis neurodevelopmental secara meyakinkan menunjukkan adanya defisit dalam struktur otak, fungsi fisiologis, dan fungsi psikologis yang sesuai pada pasien skizofrenia, yang lebih lanjut menunjukkan bahwa skizofrenia harus dianggap sebagai penyakit otak manusia daripada gangguan fungsional sederhana. Pada saat yang sama, tes pencitraan dan neuropsikologis ini menawarkan janji untuk diagnosis dini skizofrenia dan bahkan untuk skrining kelompok berisiko tinggi. Di masa depan, upaya harus dilakukan untuk menemukan dasar objektif yang dapat berkontribusi pada diagnosis dan stadium klinis skizofrenia.  Psikopatologi skizofrenia didasarkan pada deskripsi objektif dari pengalaman internal pasien dan manifestasi perilaku. Dari “empat A” Bleuler dan “gejala tingkat 1” Schneider hingga kluster yang lebih populer dari gejala positif, negatif, disintegratif, dan kognitif, hal ini mencerminkan pemahaman yang berkembang tentang psikopatologi skizofrenia. Pengembangan obat baru tidak hanya ditujukan untuk Obat-obatan baru sedang dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan kemanjuran secara keseluruhan, tetapi juga untuk secara khusus menargetkan kelompok kelompok gejala tertentu. Efek samping yang rendah dan tingkat keamanan yang tinggi merupakan persyaratan umum, dan bentuk sediaan jangka panjang atau yang lebih nyaman juga harus dipertimbangkan dalam pengembangan obat. Studi farmakogenetik dapat membantu mengembangkan rejimen dosis individual.  Rehabilitasi psikologis dan sosial pasien skizofrenia semakin mendapat perhatian. Efektivitas alat bantu psikologis dan prognostik (juga termasuk pendidikan kesehatan untuk keluarga pasien) perlu dievaluasi lebih lanjut.  Penggunaan teknologi baru dan identifikasi gejala prodromal yang lebih baik dapat membantu kita untuk mengidentifikasi pasien “potensial” dalam kelompok berisiko tinggi (misalnya, kerabat penderita skizofrenia), dan penggunaan intervensi psikologis dan farmakologis tidak hanya membutuhkan bukti medis, tetapi juga diskusi etis.  Beberapa kelompok pasien skizofrenia tertentu, seperti anak-anak dengan skizofrenia dan skizofrenia di usia tua, membutuhkan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami patologi mereka dan mengelola manajemen mereka.  Layanan kesehatan mental untuk skizofrenia, alokasi sumber daya dan manajemen sistemnya perlu dipahami lebih lanjut untuk menemukan model yang lebih baik dan disesuaikan dengan konteks Cina.