Jumlah difusi tergantung pada perbedaan tekanan parsial gas antara kedua sisi membran, area difusi, jarak, waktu, berat molekul gas dan kelarutannya dalam media difusi. Berkurangnya fungsi difusi dapat disebabkan oleh emfisema dan lesi jaringan paru-paru lainnya, fibrosis paru-paru interstitial difus dan penyakit lainnya. Ketika patologi paru menghasilkan disfungsi difusi secara klinis, sering disertai dengan ketidakseimbangan ventilasi/aliran darah yang signifikan, yang konsekuensinya semua mengarah ke hipoksia. 1. Berkurangnya fungsi difusi dapat dilihat pada: (1) Berkurangnya area difusi: misalnya emfisema, lobektomi, infeksi paru, oedema paru, perdarahan paru, pneumotoraks, skoliosis, dll. (ii) Penebalan membran kapiler alveolar: misalnya fibrosis interstitial, penyakit nodular, asbestosis, skleroderma, dll. (iii) Penurunan kapasitas pembawa oksigen dari hemoglobin: misalnya, anemia, karboksihemoglobinemia. 2. Peningkatan fungsi difusi dapat dilihat pada: eritrositosis, peningkatan tekanan arteri pulmonalis akibat shunt kiri-ke-kanan intrakardiak, dll.