Apa yang harus saya lakukan jika anak saya sering buang air kecil?

Ketika bayi harus sering buang air kecil dan mendesak, orang tua menjadi lebih cemas dari sebelumnya. Sering buang air kecil adalah gejala klinis dan yang paling penting adalah mencari tahu penyebabnya dan kemudian meresepkan obat yang tepat. Apa penyebab sering buang air kecil? Seberapa sering seorang anak perlu buang air kecil sebelum dianggap sering? Frekuensi normal buang air kecil pada anak-anak tergantung pada usia mereka. Pada bulan pertama kehidupannya, bayi akan buang air kecil sekitar satu kali setiap jam. Pada usia satu tahun, mereka buang air kecil setiap dua jam sekali. Baru setelah usia tiga tahun, seorang anak akan buang air kecil lebih sering, yaitu sekitar tiga jam sekali. Setelah pubertas (sekitar usia 12 tahun), orang dewasa akan buang air kecil setiap empat atau lima jam sekali. Ini hanya rata-rata. Frekuensi setiap anak sedikit berbeda. Frekuensi buang air kecil harus berada di luar kisaran normal anak dan tidak secara ketat dibandingkan dengan angka-angka dalam buku. Apa yang dapat menyebabkan sering buang air kecil? Ada banyak penyebabnya, jadi penting untuk mengesampingkan penyebab yang umum sebelum melihat penyebab yang kurang umum. Untuk memulainya, riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik yang cermat dapat memberikan petunjuk penting. Apakah ada desakan atau rasa sakit saat buang air kecil? Apakah Anda minum lebih banyak air dari biasanya? Apakah Anda kehilangan air seni di malam hari? Penyakit atau operasi apa yang pernah Anda jalani sebelumnya? Keadaan darurat apa saja yang baru-baru ini terjadi yang membuat anak Anda cemas, dll. Berikut adalah beberapa penyebab umum: 1. Infeksi saluran kemih: Karena kandung kemih yang meradang dan sensitif, anak-anak mungkin sering buang air kecil, mendesak, atau bahkan menyakitkan. Air seni mungkin terlihat keruh atau bahkan mengandung darah. Jika ginjal juga terpengaruh, anak mungkin mengalami demam dan muntah. Tes tercepat adalah buang air kecil rutin, mikroskop dan kultur urin. 2. Diabetes: Riwayat yang cermat akan menunjukkan bahwa anak-anak ini haus dan minum banyak air. Beberapa di antaranya disebabkan oleh iklim yang panas. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan meminta anak dan orang tua membuat catatan harian tentang asupan air dan pengeluaran air seni. Diagnosis dapat ditegakkan dalam sekejap. Namun, ada juga yang disebabkan oleh diabetes. Bulan lalu, saya melihat seorang anak yang dirujuk ke klinik urologi pediatrik yang, selain haus, juga mengalami gangguan mental dan kekurangan berat badan. Pada pandangan pertama, saya menduga diabetes melitus. Tes urin segera dilakukan dan gula urinnya ditemukan sangat tinggi. Diagnosis kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan glukosa darah. Setelah mengendalikan asidosis, anak tersebut mulai menggunakan insulin. Terdapat poliuria terkait endokrin lainnya. 3. Lesi pada kandung kemih: volume kandung kemih yang kecil, kandung kemih neurogenik, emboli tulang belakang, dan kontraksi kandung kemih yang tidak stabil secara fungsional juga ditemukan dari waktu ke waktu. Pemeriksaan fisik harus memperjelas bentuk sakrum tulang belakang, sistem saraf tungkai bawah dan fungsi sfingter anus. Pemeriksaan lebih lanjut, ultrasonografi, sistografi, urodinamika, dan bahkan MRI sumsum tulang belakang terkadang diperlukan. Pemeriksaan urodinamik menjadi sangat penting. Beberapa anak memiliki kandung kemih yang terlalu aktif (OAB) yang dapat dikontrol dengan beberapa jenis obat. Banyak yang sembuh sendiri setelah beberapa waktu. 4. Gagal ginjal lanjut: Anak-anak ini biasanya sudah tua dan memiliki diagnosis yang jelas. Ginjal telah kehilangan kemampuannya untuk berkonsentrasi dan air seni mulai mengalir lebih sering, yang menyebabkan sering buang air kecil. Diperlukan dialisis atau penggantian ginjal. Singkatnya, ada banyak penyebab sering buang air kecil. Diagnosis harus dipastikan oleh ahli urologi pediatrik sebelum perawatan yang tepat diberikan. Pemeriksaan yang sistematis dan diagnosis yang tepat sangat penting.