Tidak ada kolangiografi untuk transplantasi hati hidup

  LATAR BELAKANG: Teknik transplantasi hati hidup menjadi semakin canggih, tetapi insiden komplikasi bilier tetap lebih tinggi daripada transplantasi hati kadaver. Teknik kolangiografi intraoperatif belum mengurangi kejadian komplikasi tersebut dan penilaian pra operasi baru dan teknik bedah intraoperatif dipertimbangkan.  TUJUAN STUDI: Untuk menginovasi teknik baru tanpa kolangiografi untuk transplantasi hati hidup.       METODE DAN DATA: Antara September 2007 dan Mei 2008, 21 transplantasi hati hidup antara belahan kanan dewasa dilakukan, semuanya tanpa kolangiografi intraoperatif. Dalam semua kasus, iodothyronine pra operasi (agen ionoforesis baru) diberikan secara intravena dan CT resolusi tinggi digunakan dengan sistem analisis perangkat lunak MeVis (MeVis Technology, Bremen, Jerman) untuk memvisualisasikan dengan jelas struktur pohon empedu di atas saluran empedu sekunder dan untuk menentukan garis reseksi yang benar. Semua kasus ditindaklanjuti selama lebih dari enam bulan.  Hasil: Dari 21 cangkok hati kanan, 14 berisi satu saluran empedu, 5 berisi dua saluran empedu, 2 berisi tiga saluran empedu, 5 memiliki rekonstruksi saluran empedu multipel dan 2 memiliki anastomosis empedu-usus. 4 dari 21 kasus memiliki fistula bilier dan tidak ada striktur bilier yang terbentuk pada tindak lanjut terakhir. 3 kasus segera diblokir dengan biokonjugat ERCP dan 1 kasus memiliki anastomosis empedu-usus baru. Insiden komplikasi bilier adalah 19%.  Kesimpulan: Dengan belahan kanan sebagai cangkok, teknik MeVis dapat menghindari kolangiografi intraoperatif. Keakraban pra operasi dan pengetahuan tentang anatomi saluran empedu intrahepatik diperlukan untuk mengembangkan garis reseksi yang benar. Garis reseksi yang benar dan teknik rekonstruksi bedah mikro adalah kunci untuk mengurangi komplikasi bilier.