Autisme, yang juga dikenal sebagai autisme masa kanak-kanak, adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan kelainan kualitatif pada pola interpersonal dan komunikasi sosial seseorang, termasuk berbagai aktivitas fungsional dalam berbagai situasi, seperti interaksi sosial, gangguan ekspresi verbal, minat yang sempit, stereotip, dan pola perilaku lainnya. Ada lima gejala utama autisme, yang ditandai dengan tiga gejala pertama: defisit interaksi sosial Defisit interaksi sosial merupakan inti dari autisme. Beberapa anak dengan autisme menunjukkan penghindaran kontak mata dengan orang lain dan kurangnya ekspresi wajah pada masa bayi. Ketika diminta untuk menggendongnya, ia sering kali tidak mengulurkan tangannya dalam posisi mengharapkan untuk digendong, seperti yang dilakukan oleh anak-anak normal. Ia menolak untuk dipeluk, tidak memiliki ekspresi keterikatan yang jelas saat berpisah dari orang tuanya, dan tidak menunjukkan ekspresi bahagia saat melihat mereka. Gangguan bicara sangat umum terjadi dan parah. Penderita diam atau menggunakan sedikit bahasa, lebih suka menggunakan isyarat atau bentuk lain untuk mengekspresikan keinginan dan permintaan mereka. Mereka cenderung menggunakan gerak tubuh atau bentuk ekspresi lain untuk mengekspresikan keinginan dan permintaan mereka. Mereka memiliki kemampuan verbal yang buruk, tidak memulai percakapan, sering berbicara sendiri, dan sering menggunakan kata ganti, ucapan berulang yang stereotip, serta ucapan yang meniru. Gangguan pada intonasi dan ritme bicara dimanifestasikan dengan bicara yang dirangsang sendiri, berteriak, bersenandung, atau membuat “kata-kata” yang tidak terdengar atau tidak dapat dimengerti oleh orang lain, atau berbicara pada diri sendiri, yang juga dikenal sebagai “bahasa egosentris”. Komunikasi non-verbal terganggu oleh penggunaan gerak tubuh atau bahasa postural, atau dengan mengangguk, menggeleng, atau ekspresi wajah lainnya untuk mengekspresikan kebutuhan. Rentang minat yang sempit dan cara berperilaku yang stereotip dan kaku terhadap lingkungan, kecenderungan untuk menuntut respons yang tetap atau tidak normal, dan kecenderungan untuk menstereotipkan dan memperbaiki cara hidup. Minat yang tidak biasa dan cara bermain yang tidak biasa, yaitu sering kali memiliki ketertarikan khusus pada objek atau aktivitas tertentu, memegang objek ketertarikan tersebut selama berhari-hari bahkan sampai berpuluh-puluh hari. Perilaku stereotip, berulang-ulang dan postur tubuh yang aneh, sering mondar-mandir sendirian, berputar-putar, berjalan berputar-putar, melompat-lompat berulang kali, paling sering dengan tangan di dada dan menatap ke arahnya, sering kali dengan gerakan melukai diri sendiri atau menyakiti diri sendiri. Ia juga berulang kali menyentuh benda-benda halus, dan sering mengendus benda-benda di depan hidungnya, atau bahkan benda-benda biasa. Kelainan sensorik dan perseptual mungkin lemah, kuat, atau tidak biasa, dan beberapa anak mungkin tidak responsif terhadap rangsangan yang menyakitkan. Defisit intelektual dan kognitif ditemukan pada sekitar 3/4 anak dengan keterbelakangan mental. Beberapa anak autis memiliki kemampuan khusus tertentu seperti ingatan yang tidak biasa untuk rute, angka, tempat, dan orang, serta kemampuan memproyeksikan dan menghitung tanggal dengan cepat.