Terlepas dari keuntungan monoterapi yang jelas, ada beberapa pasien yang kejangnya masih belum terkontrol dengan baik setelah monoterapi, dan kombinasi multidrug harus dipertimbangkan. Prinsip terapi kombinasi multidrug adalah untuk mencapai kontrol kejang yang memuaskan tanpa meningkatkan efek samping. Karena semakin banyak obat yang digabungkan, semakin kompleks interaksinya dan semakin sulit untuk menentukan efek samping, kombinasi lebih dari tiga obat antiepilepsi tidak dianjurkan. Pemahaman tentang mekanisme kerja, karakteristik farmakokinetik dan interaksi dengan obat lain sangat penting sebelum kombinasi multi-obat dapat diberikan, dan ini adalah dasar untuk kombinasi multi-obat yang rasional. Kombinasi obat antiepilepsi dengan mekanisme kerja yang sama dan efek samping yang sama, serta kombinasi obat dengan interaksi farmakokinetik yang signifikan, harus dihindari. Beberapa saran untuk pemilihan obat untuk terapi kombinasi multidrug 1. Pilih obat dengan mekanisme kerja yang berbeda: misalnya, obat dengan efek seperti GABAergik yang dikombinasikan dengan penghambat saluran natrium dapat menghasilkan hasil klinis yang lebih baik. Misalnya, kombinasi karbamazepin, oxcarbazepin, lamotrigin, fenitoin natrium dengan natrium valproat, Toltea, gabapentin, dan Kaipulan. Cobalah untuk menghindari kombinasi dua penghambat saluran natrium atau dua obat dengan efek seperti GABAergik. 2. Hindari kombinasi obat yang memiliki efek samping yang sama, interaksi kompleks dan induksi enzim hati. Misalnya, Kaipuran dan gabapentin jarang berinteraksi dengan obat lain dan cocok untuk kombinasi dengan obat lain. Natrium valproat dapat memperpanjang waktu paruh lamotrigin dan meningkatkan konsentrasi plasmanya, dan dosis awal dan pemeliharaannya harus disesuaikan. Jika terapi kombinasi tidak menghasilkan hasil yang lebih baik, terapi kombinasi dapat dilanjutkan atau dialihkan ke monoterapi, di mana keseimbangan terbaik antara efikasi dan efek samping harus dipilih dan kontrol kejang yang lengkap tidak perlu dikejar.