Banyak orang tua yang pertama kali mengasosiasikan kenakalan anak mereka dengan “ADHD,” tetapi ini adalah kesalahpahaman besar. Sebuah studi global baru-baru ini yang didukung oleh Eli Lilly and Company mengungkapkan bahwa persepsi orang tua tentang ADHD pada anak-anak adalah miring. Menurut psikiater anak, diagnosis ADHD relatif kompleks dan membutuhkan penilaian komprehensif terhadap perilaku anak dalam berbagai pengaturan, dan tes skala tunggal tidak cukup untuk memberi label anak sebagai “ADHD”. Sebagian besar anak yang aktif sangat ingin tahu, tertarik pada segala sesuatu, dan memiliki pikiran yang cepat dan fleksibel, dan sebagian besar dari mereka akan memiliki perkembangan yang baik ketika mereka tumbuh dewasa. Menurut survei, banyak orang yang sukses di jam-jam kebanyakan dari mereka lebih nakal, berkarakter lincah, berani berpikir dan berbuat, kompetitif. Oleh karena itu, orang tua harus dianggap sebagai fenomena yang baik untuk mobilitas dan kelincahan anak-anak mereka. Tetapi bagaimana membedakan antara hiperaktif dan ADHD, perlu mendengarkan para ahli.
Profesor mengatakan bahwa diagnosis ADHD relatif kompleks dan tidak dapat dibuat berdasarkan skala saja, yang mungkin didiagnosis berlebihan atau kurang didiagnosis dalam praktik klinis. Menurut para ahli, untuk mendiagnosis ADHD pada anak-anak, dokter akan sangat mementingkan pendapat guru sekolah anak, karena guru akan menemukan perilaku anak ADHD yang “tidak sesuai usia”, sehingga dapat membedakan beberapa anak yang tidak bisa duduk diam karena penyakit fisik atau IQ yang rendah, dll. Para ahli juga percaya bahwa selain gejala khas seperti kurangnya perhatian dan impulsif, penting untuk mempertimbangkan hubungan teman sebaya dan orang tua-anak anak dalam pengaturan yang berbeda seperti sekolah dan rumah. Secara umum, anak-anak dengan ADHD biasanya memiliki harga diri yang rendah dan gangguan dalam fungsi sosial seperti kesulitan emosional dan sosial. Lebih dari 1/3 anak-anak dengan ADHD mengalami kesulitan belajar, yang bisa sangat mengganggu orang tua. Ibu Qiang Qiang pergi ke dokter karena kesulitan belajar anaknya. Dia mengatakan bahwa Qiangqiang yang berusia 9 tahun tidak bisa duduk diam di kelas, selalu membuat gerakan kecil, dan memiliki prestasi akademis yang sangat buruk, gagal dalam sebagian besar pekerjaan rumahnya.
Setelah penilaian yang komprehensif, dokter mendiagnosis Qiangqiang mengalami ADHD, dan setelah minum obat, Qiangqiang dapat berkonsentrasi pada ceramah guru, tetapi guru masih melaporkan bahwa anak-anak lain tidak mau bermain dengannya.
Para ahli mengatakan bahwa untuk anak-anak dengan ADHD, mengandalkan obat saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga harus membantu anak-anak dengan ADHD untuk membangun hubungan dengan anak-anak lain, belajar mengendalikan emosi mereka, yang membutuhkan kesabaran guru dan orang tua.