Apakah ada “menopause” untuk pria juga?

Banyak orang mengira bahwa menopause adalah milik wanita. Faktanya, pria juga mengalami menopause. Dalam hal ini, baik pria maupun wanita harus mengalami menopause sebelum memasuki usia tua. Dengan semakin menuanya populasi kita, menopause menjadi perhatian utama bagi pria. Secara umum, sebagian besar pria mulai mengalami menopause setelah usia 40-55 tahun, tetapi ada beberapa kasus di mana pria mulai mengalami menopause sedini usia 35 tahun atau selambat-lambatnya usia 65 tahun, atau bahkan usia 70 tahun. Namun, tidak semua pria akan mengalami gejala klinis saat memasuki masa menopause, dan diperkirakan 30% hingga 40% pria paruh baya dan lebih tua mungkin mengalami berbagai tingkat tanda dan gejala menopause. Artikel ini akan memberikan pengenalan rinci tentang definisi, gejala dan pengobatan menopause pria. 1, definisi menopause pria Ini mengacu pada periode transisi tertentu dari usia paruh baya ke usia tua, yang merupakan periode transisi berdasarkan perubahan mendadak dalam kadar hormon, lingkungan biokimia dan keadaan psikologis dalam tubuh pria dari mekar ke penurunan. Jika proses perubahan tersebut terlalu intens, sehingga mempengaruhi fungsi beberapa sistem organ dan menurunkan kualitas hidup, gejala fisik dan psikologis tertentu atau (dan) tanda-tanda kelainan akan muncul, dengan atau tanpa penurunan kadar testosteron serum, yang pada saat itu disebut sebagai sindrom menopause pria. Menopause pada pria disebabkan oleh berbagai faktor. Selain usia, sering kali terdapat hal-hal berikut: kehidupan kerja yang penuh tekanan; penyakit kronis seperti diabetes, depresi, penyakit kardiovaskular, dll.; gaya hidup yang buruk, seperti merokok, kecanduan alkohol, dll.; kondisi kehidupan yang buruk; kurangnya aktivitas fisik; obesitas perut, dll. 2. Apa saja gejala menopause pada pria? (1) Gejala otonom dan vasodilatasi yang tidak normal, seperti muka memerah, berkeringat, insomnia, gugup, dll. (2) Gejala fungsi emosional dan kognitif Kecemasan, mengantuk, perasaan yang buruk tentang diri sendiri, kurangnya motivasi untuk hidup, berkurangnya kecerdasan, berkurangnya kekuatan otak, kehilangan ingatan, pemikiran dan reaksi yang lebih lambat, depresi, kurangnya rasa percaya diri dan ketakutan yang tidak dapat dijelaskan, dll. (3) Penurunan kebugaran fisik dan energi Penurunan massa otot, penurunan kekuatan otot, kelelahan, kehilangan nafsu makan, nyeri tulang dan sendi, peningkatan lemak, obesitas perut, kehilangan rambut seksual dan gejala lain dari berkurangnya kejantanan; mudah lelah, penurunan kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, kerentanan terhadap jatuh dan cedera. (4) Penurunan fungsi seksual Menurunnya hasrat seksual, berkurangnya aktivitas seksual, disfungsi ereksi, menurunnya kualitas orgasme, lemahnya ejakulasi, menurunnya volume air mani, dan tidak ada ereksi spontan di pagi hari. (5) Sistem kerangka Pada pasien dengan patah tulang yang disebabkan oleh osteoporosis, 7% hingga 30% mengalami defisiensi androgen. Angka kematian patah tulang leher femur pada pria yang lebih tua bisa mencapai 30%, dua kali lebih tinggi daripada wanita menopause. (6) Lain-lain Anemia ringan lebih sering terjadi pada pria yang lebih tua, salah satu penyebabnya adalah kadar testosteron serum yang lebih rendah, dan suplementasi androgen bermanfaat untuk memperbaiki anemia. Gejala-gejala sindrom menopause pada pria sangat kompleks dan semua gejala ini dapat dibagi ke dalam tiga kategori utama. Yang pertama adalah gejala psikoneurologis, yang kedua adalah gejala peredaran darah dan sistemik, dan yang ketiga adalah gejala di area seperti fungsi seksual dan organ reproduksi. Kelompok gejala ketiga adalah yang paling penting dan harus dilihat sebagai gejala inti, dan ditandai dengan berkurangnya fungsi seksual, disfungsi ereksi yang dirasakan sendiri, hasrat seksual yang berkurang dan acuh tak acuh, berkurang atau tidak ada ereksi, hubungan seksual yang jauh lebih jarang, dan berkurang atau tidak ada ejakulasi. Hubungan antara gejala-gejala di atas dengan penurunan progresif fungsi testis dan kadar T masih belum pasti, sehingga diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan kadar T, LH, dan FSH dalam darah. 3. Bagaimana penanganan sindrom menopause pada pria? Pengobatan harus bersifat individual. Penyesuaian psikologis harus menjadi andalan pengobatan, bersama dengan kombinasi nutrisi yang tepat, latihan fisik, aktivitas seksual yang moderat, dan obat-obatan. Kita harus memperhatikan pola makan yang wajar dan nutrisi yang seimbang, dengan campuran yang wajar antara makanan kasar dan halus, daging dan vegetarian, serta makanan utama dan lauk pauk. Kita harus makan lebih banyak makanan yang kaya akan protein, kalsium dan multivitamin, seperti biji-bijian kasar serta buah-buahan dan sayuran segar, dan hindari makanan yang mengandung lebih banyak gula, garam, dan minyak. Hindari makanan bergula, asin, dan berminyak. Mengukus dan menggoreng adalah metode memasak yang paling populer. Olahraga di luar ruangan sangat diperlukan. Berolahragalah setiap hari dan jaga kekuatan Anda.