Jika terdapat gangguan ovulasi, apakah hal tersebut dapat mempengaruhi pembuahan?

Ketika seorang wanita memasuki masa reproduksinya, biasanya ada satu folikel dominan per bulan yang berkembang hingga matang dan melepaskan sel telur. Setelah sel telur dilepaskan, payung tuba falopi akan “menjemput” sel telur di dalam tuba falopi dan membawanya ke bagian tuba falopi yang menjadi tempat bertemunya sperma dan sel telur. Sperma memasuki vagina wanita melalui ejakulasi dan berjalan dengan flagel ke leher rahim dan rongga rahim, akhirnya mencapai tuba falopi di mana ia bergabung dengan sel telur untuk membentuk sel telur yang telah dibuahi. Sel telur yang telah dibuahi memasuki rongga rahim dari peritoneum tuba falopi dan secara bertahap membelah diri menjadi beberapa sel saat bergerak menuju rongga rahim, membentuk blastokista dan menanamnya di rongga rahim untuk berkembang menjadi embrio, yang kemudian secara perlahan-lahan tumbuh menjadi janin, yang merupakan perkiraan proses penyatuan sperma dan sel telur. Apabila seorang wanita mengalami gangguan ovulasi atau proses transportasinya terhambat, maka sperma dan sel telur tidak dapat bersatu secara efektif, sehingga mempengaruhi kehamilan. Berbagai penyebab gangguan ovulasi dapat mempengaruhi kehamilan dan memerlukan bantuan medis. Penyebab gangguan ovulasi meliputi lesi hipotalamus dan hipofisis, sindrom ovarium polikistik, fungsi tiroid yang tidak normal, hiperprolaktinemia, dan sindrom luteinasi folikel tanpa ruptur. Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah ovulasi sedang terjadi. Pengukuran suhu tubuh basal, perubahan kualitas lendir serviks, pemeriksaan histologis endometrium, perubahan hormon reproduksi, dan deteksi ultrasonografi folikel, semuanya dapat digunakan untuk memprediksi apakah ovulasi sedang terjadi. Saat ini, pengukuran hormon dan USG adalah yang paling sering digunakan untuk memantau ovulasi di dalam dan luar negeri. Hormon yang paling penting untuk ovulasi adalah hormon luteinising (LH), yang berfluktuasi pada tingkat yang sangat rendah pada tahap awal dan memiliki puncak sekresi sebelum ovulasi, menjadikannya hormon yang paling banyak berubah sebelum ovulasi. Oleh karena itu, pengukuran LH darah atau LH urin secara terus menerus 1 minggu sebelum menstruasi dapat memprediksi secara kasar ovulasi. Pengamatan ovarium secara terus menerus dengan USG dapat menentukan perkembangan folikel berdasarkan ukuran folikel dan memperjelas penyebab kegagalan pasien untuk berovulasi. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat memprediksi respons pasien terhadap induksi ovulasi, yang dapat memandu penyesuaian program induksi ovulasi. Kesimpulannya, dampak gangguan ovulasi terhadap kehamilan sudah pasti, dan jika ada masalah terkait, maka perlu mencari bimbingan profesional sesegera mungkin.