Para peneliti dari Salk Institute, University of California, San Diego, dan yang lainnya baru-baru ini menemukan bahwa ketika lalat buah berhenti makan di malam hari, jantung mereka menua lebih lambat, dan kelompok ini juga telah mengidentifikasi mekanisme molekuler spesifik yang terlibat. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science edisi 13 Maret 2015. Pada tahun 2012, Satchidananda Panda, seorang profesor di Salk Institute, menemukan bahwa tikus yang diberi makanan tinggi lemak, tapi hanya selama delapan jam sehari, lebih sehat dan lebih langsing dibandingkan tikus yang diberi makanan dalam jumlah yang sama sepanjang hari, dan kedua kelompok tersebut membakar kalori dalam jumlah yang sama. Hal ini membuat Panda dkk. menunjukkan bahwa bukan hanya apa yang Anda makan yang penting, tetapi juga kapan Anda makan yang penting bagi kesehatan Anda, dan tahun lalu kelompok ini melakukan percobaan lebih lanjut dan menemukan bahwa mekanisme kerja pembatasan waktu lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya, yang dapat membalikkan model obesitas dan diabetes pada hewan. Berdasarkan penelitian ini, kelompok Panda kembali menemukan bahwa lalat buah yang makan di siang hari ketika mereka lebih aktif secara fisik dan tidur di malam hari mengalami kenaikan berat badan lebih lambat dan juga mempertahankan fungsi jantung yang lebih baik dibandingkan mereka yang makan tanpa memandang waktu. Kedua kelompok lalat buah tersebut mengonsumsi jumlah kalori yang sama dan melakukan intensitas olahraga yang sama. Namun, terlepas dari apakah lalat buah ini makan sereal rendah lemak atau tinggi lemak, lalat buah yang hanya makan siang hari lebih sehat daripada mereka yang makan sepanjang hari. Untuk mengungkap misteri genetik ini, para peneliti menganalisis komponen genetik yang mengkodekan jam biologis, dan menemukan bahwa kompleks siklik TCP-1, serta kompleks rantai transpor elektron mitokondria, merupakan komponen pemantau dan pengatur utama dalam proses ini. Semua penelitian ini menunjukkan bahwa saat kita makan juga penting bagi kesehatan kita. Meskipun belum memungkinkan untuk melakukan eksperimen intervensi pada manusia, ini jelas merupakan pendekatan yang layak untuk menurunkan berat badan dan, dengan lebih banyak eksperimen, dapat mengungkapkan apa yang memicu obesitas pada awalnya. Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa pada tikus yang sudah menderita obesitas, membatasi pola makan mereka sehingga mereka tidak dapat makan di luar sembilan jam juga menunjukkan bahwa tikus-tikus tersebut mengalami penurunan berat badan. Selain itu, kelompok peneliti lain menemukan sistem sinyal penting di otak yang mengontrol nafsu makan, pengeluaran energi dan komposisi lemak tubuh. Satu gen tertentu, Y6, menentukan kegemukan tubuh. Para peneliti menemukan bahwa tikus dengan gen Y6 yang dilenyapkan berukuran lebih kecil dan memiliki lebih sedikit jaringan non-lemak di dalam tubuhnya dibandingkan dengan tikus normal. Selain itu, seiring bertambahnya usia, tikus yang mengalami knockout menjadi lebih gemuk daripada tikus normal, terutama saat mengonsumsi makanan berlemak tinggi. Dalam hal ini, tikus menjadi gemuk dan mengalami masalah metabolisme seperti diabetes. Studi ini menunjukkan bahwa polipeptida pankreas (Pancreatic Polypeptide) sangat erat kaitannya dengan Y6 pada tikus. Ini adalah sinyal kenyang yang mengontrol makan pada waktu yang berbeda. Para peneliti mencatat bahwa mengonsumsi jumlah kalori yang sama pada waktu yang berbeda dalam sehari tidak memiliki efek yang sama pada berat badan.