Lutut adalah sendi besar yang paling sering terkena osteoartritis (OA), dan OA lutut merupakan penyebab penting hilangnya fungsi sendi dan keterbatasan aktivitas fisik pada lansia. Kelemahan sendi dianggap sebagai faktor penting dalam perkembangan OA lutut serta dalam perkembangan penyakit. Untuk mengevaluasi apakah peningkatan kelemahan lutut setelah aktivitas fisik sehari-hari (misalnya menaiki tangga) dikaitkan dengan perkembangan osteoartritis pada pasien OA lutut, Dr Tsuyoshi Miyazaki dari Universitas Fukui, Jepang, melakukan penelitian prospektif. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam ARTHRITIS & RHEUMATISM edisi Desember 2012. Studi ini menyimpulkan bahwa mereka yang mengalami OA lutut progresif lebih cenderung memiliki perubahan yang lebih besar pada kelemahan lutut dan nilai indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi. Antara tahun 2001 dan 2003, 136 pasien dengan osteoartritis lutut degeneratif medial primer bilateral diikutsertakan dalam penelitian prospektif ini. Data dasar yang dicatat termasuk BMI, kekuatan otot, lebar ruang sendi pada pencitraan, sumbu gaya fisiologis selama berdiri pada pencitraan, dan kelemahan anterior-posterior (AP) lutut sebelum dan sesudah aktivitas fisik. Selama 8 tahun masa tindak lanjut, 84 pasien diperiksa ulang untuk menilai perubahan pencitraan. Perkembangan pencitraan didefinisikan sebagai perkembangan >1 tingkat klasifikasi Kellgren/Lawrence pada sendi dibandingkan dengan pemeriksaan awal. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam usia, jenis kelamin, kekuatan otot paha depan pada awal, sumbu gaya fisiologis, lebar ruang sendi dan kelemahan sendi anterior-posterior sebelum aktivitas fisik antara pasien dengan OA progresif dan mereka yang tidak memiliki penyakit progresif. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam hal BMI pada awal dan perubahan kelemahan sendi anterior-posterior akibat aktivitas fisik. Setiap peningkatan 1 mm pada kelemahan sendi anterior-posterior akibat aktivitas fisik dikaitkan dengan peningkatan 4,15 kali lipat risiko perkembangan osteoartritis lutut, sementara setiap peningkatan 1 BMI dikaitkan dengan peningkatan 1,24 kali lipat risiko perkembangan. Hasil penelitian menegaskan bahwa pasien dengan penyakit progresif menunjukkan perubahan yang lebih besar pada kelemahan lutut yang terkait dengan aktivitas fisik dan nilai BMI yang lebih tinggi daripada mereka yang menderita OA tanpa perkembangan. Perubahan yang lebih besar pada kelemahan lutut akibat aktivitas fisik berulang dan BMI yang lebih tinggi mungkin memainkan peran penting dalam perkembangan OA lutut.