Seri Trauma Kronis tentang Definisi dan Epidemiologi

  Luka kronis, juga dikenal sebagai borok kulit dan luka refrakter, adalah luka yang tidak sembuh dalam waktu yang teratur dan sesuai dengan proses normal penyembuhan luka; luka yang gagal sembuh selama lebih dari 3 bulan disebut sebagai luka kronis.  Secara umum, penyembuhan luka pada kulit merupakan proses dinamis yang secara artifisial dapat dibagi menjadi tiga atau empat proses yang saling tumpang tindih, yaitu fase respons hemostatik/inflamasi, fase proliferasi, dan fase renovasi jaringan. Proses penyembuhan luka kronis sering kali terhambat pada satu atau beberapa fase proses penyembuhan, misalnya biasanya terdapat fase respon inflamasi yang berkepanjangan secara signifikan. Pada luka akut, terdapat keseimbangan yang tepat antara produksi dan degradasi produk molekuler yang terkait dengan perbaikan luka, seperti kolagen; pada luka kronis, keseimbangan ini terganggu dan respons degradasi yang lebih kuat ditunjukkan.  Luka kronis dapat tetap tidak diobati selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup, menyebabkan stres psikologis dan fisik yang parah dan akibatnya menjadi beban ekonomi yang sangat besar bagi pasien dan sistem perawatan kesehatan secara keseluruhan.  Jumlah penderita luka kronis telah meningkat secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia penduduk, pertambahan berat badan dan meningkatnya komplikasi akibat penyakit seperti diabetes dan insufisiensi vena. Diperkirakan sekitar 1% dari populasi dapat mengalami ulkus kaki selama masa hidupnya. Di Amerika Serikat saja, 3-6 juta orang menderita trauma kronis setiap tahunnya, dan biaya untuk mengobati trauma ini hampir mencapai US$5-10 miliar. Di Cina, tingkat trauma kronis di antara pasien rawat inap bedah berkisar antara 1,5% hingga 20,3%, menurut studi epidemiologi.  Akibatnya, trauma kronis telah menjadi beban berat bagi pasien, tenaga medis profesional, dan bahkan seluruh sistem perawatan kesehatan. Pemahaman mendalam tentang patofisiologi luka kronis dan kemampuan untuk menerapkan tindakan terapeutik yang tepat, termasuk faktor pertumbuhan, terapi sel, terapi gen, dan kulit rekayasa jaringan, diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.