Dalam pekerjaan klinis, ketika seorang pasien ditemukan memiliki dugaan infark miokard akut, membuat pasien berbaring datar adalah tindakan perawatan paling awal dan paling penting. Mekanisme utamanya adalah bahwa rangsangan saraf simpatis menurun, tekanan darah pasien menurun dan detak jantung melambat, yang dapat menyebabkan penurunan konsumsi oksigen miokard, yang sangat bermanfaat dalam infark miokard akut. Namun, ini hanya pandangan sepihak tentang pengobatan infark miokard akut dari perspektif dokter. Secara filosofis, perbedaan persepsi dapat terjadi ketika melihat masalah dari perspektif yang berbeda dan dengan audiens yang berbeda. Untuk pasien dengan infark miokard akut, titik awal pengobatan yang diberikan oleh dokter kepada pasien dimulai dengan pemberian oksigen. Pasien tidak akan pernah menganggap bahwa dokter menyuruhnya untuk berbaring, sebagai tindakan terapeutik. Di mata pasien, tabung oksigen yang diberikan kepadanya oleh staf medis adalah penyelamat. Pada titik ini, pasien merasa bahwa dokter sedang memulai pengobatan dan bahwa keadaan kecemasan dan gairah simpatik pasien mungkin dapat dikurangi secara signifikan dengan pemberian oksigen. Oleh karena itu, di mata pasien, oksigen adalah awal dari pengobatan infark miokard akut. Kadang-kadang dalam menghadapi beberapa sengketa medis, pasien juga selalu menggunakan oksigen sebagai simpul awal pengobatan. Apakah pemberian oksigen benar-benar begitu penting? Jika infark miokard akut tidak memiliki komplikasi yang jelas dan darah diambil dari pasien untuk analisis gas darah, hasilnya adalah sebagian besar pasien memiliki hasil analisis gas darah yang normal dan pasien tidak mengalami hipoksia. Namun demikian, para klinisi telah mencatat bahwa dispnea, kecemasan, dan bahkan rasa nyeri yang cepat hilang setelah pemberian oksigen, terutama sebagai akibat dari efek kenyamanan. Pemberian oksigen dalam dosis kecil belum ditemukan memiliki efek berbahaya, dan beberapa data menunjukkan bahwa oksigen meningkatkan fungsi miokard dan mengurangi kecemasan dan rasa sakit, sehingga harus digunakan secara rutin pada infark miokard akut. Kesimpulannya, pemberian terapi oksigen pada infark miokard akut tanpa hipoksia merupakan fungsi dari beberapa efek psikologis dan masih bermanfaat bagi pasien. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pekerjaan klinis, beberapa tindakan terapeutik mungkin tidak bekerja sama sekali, tetapi memiliki efek meyakinkan, dan yang terakhir ini juga penting. Dengan kata lain, penting juga untuk memahami psikologi pasien; tabung oksigen mungkin tidak efektif, tetapi dapat secara signifikan meningkatkan kepuasan pasien. Jika kepentingan pasien diperhitungkan, klinisi harus belajar untuk melihat sesuatu dari sudut pandang pasien.