TUJUAN: Untuk menyelidiki pengobatan dan regresi pasien dengan radikulopati serviks neurogenik dengan kompresi sumsum tulang belakang degeneratif. Semua pasien melanjutkan perawatan non-bedah yang sistematis dan komprehensif selama 2 minggu setelah masuk rumah sakit, dan perawatan bedah dilakukan jika fungsi saraf terus terganggu atau jika rasa sakitnya parah dan tidak dapat dihilangkan. Hasil klinis dievaluasi dengan skor VAS dan JOA sebelum perawatan, 2 minggu setelah perawatan, dan selama masa tindak lanjut, masing-masing. Hasil: 29 pasien ditindaklanjuti selama rata-rata 1,16 tahun, 18 di antaranya menunjukkan berbagai tingkat perbaikan, 11 di antaranya menunjukkan tidak ada perbaikan yang signifikan dengan pengobatan konservatif, 6 di antaranya menjalani operasi, dan 5 sisanya menolak operasi; selama masa tindak lanjut, 2 pasien yang tidak mengalami perbaikan dengan pengobatan konservatif tidak menunjukkan tanda dan gejala yang jelas dari kompresi tipe sumsum tulang belakang, dan 5 pasien menunjukkan kelegaan gejala dan kelumpuhan secara bertahap. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam peningkatan rasa sakit dan skor JOA pada kelompok ini sebelum dan sesudah pengobatan dan selama periode tindak lanjut. Kesimpulan: Pasien dengan radikulopati serviks dengan kompresi sumsum tulang belakang degeneratif memiliki regresi yang berbeda setelah perawatan non-bedah yang sistematis dan komprehensif, beberapa di antaranya dapat “disembuhkan”, sementara beberapa masih memerlukan perawatan bedah. Radikulopati servikal tidak bisa begitu saja dianggap sebagai tanda transformasi dari kompresi medula spinalis degeneratif menjadi spondilosis servikal spinal.